Persiapan Menikah #1

Hai.

Judulnya terbaca sangat meyakinkan bukan?

Soal hal sensitif ini (sensitif menurutku karena belum menikah).

Sebenarnya aku bukan ahlinya, juga bukan ranahku untuk berhak banyak membahas soal pernikahan, karena aku belum menikah.

Dulu, aku tak bisa memahami kenapa setiap wanita yang menikah terlihat selalu sedih, senang tapi menangis sedih. Bahkan setelah memakai riasan cantik sedemikian rupa, mereka tetap menangis, adik sulung umik pun begitu, dengan riasan cantik, dia menangis sesenggukan.

Padahal bukannya seharusnya bahagia?

Di ingatanku tentang pernikahan adalah kerlap kerlip riasan dinding, papan sterofoam warna warni bertuliskan ucapan doa, selamat, dan salam menyambut tamu, serta kertas hiasan berwarna senada juga balon berbagai ukuran yang terpasang di setiap sudut ruangan rumah panjang nenek, sangat meriah.

Tapi, kenapa si pengantin wanita menangis, terlihat bahagia tapi juga sedih dalam satu waktu?

Seiring beranjak dewasa, dan memasuki umur (yang seharusnya sudah/akan) menikah, aku kemudian faham. Kesedihan itu adalah perihal sedih meninggalkan orang tua. Sedih meninggalkan status sebagai anak yang selalu manja kepada ibunya. Dan anak yang selalu dapat perlindungan dan dukungan dari ayahnya.

Ketika menikah, kewajiban seorang istri akan sepenuhnya kepada suami, orang tua yang kedua.

Bagaimana mungkin? orang tua sudah membersamai si anak wanita sepanjang hidup (sampai sebelum bertemu suami), mencurahkan kasih, cinta dan hidupnya untuk anak tersayang, kemudian seorang lelaki asing tiba-tiba datang, membawa pergi anak kesayangan mereka. Meskipun definisi pergi disini bukan berarti hilang begitu saja, tapi menikah menjadi terdengar sangat berat--apalagi untuk seorang anak sulung perempuan sepertiku, karena ini berarti harus meninggalkan mereka.

Living with a new person.

Semakin menua, semakin bertambah angka tahun, teman-temanku satu-persatu hilang. Mereka memulai hidup baru dengan suaminya masing-masing, lalu pada waktunya, mereka sibuk dengan anak dan keluarganya.

Teman?

Ah itu hanya sementara.

And here I am.

Meskipun....

Nikah bukan soal urusan cepet-cepetan. Tapi lambat laun, aku harus memikirkan soal ini.

Kata Ustad felix, menikah adalah soal siapa yang paling siap persiapannya, siapa yang paling tepat persiapannya. Ketika pernikahan itu suatu ibadah, pernikahan adalah sebuah ketaatan kepada Allah, maka kita akan mempersiapkann dengan cara yang luar biasa. Karena menikah adalah ibadah yang paling lama.

 **

Menurut penjelasan berbagai sumber, juga beberapa kajian yang akhir-akhir ini sedang kudengarkan, menikah itu tentang melengkapi, menjadi pasangan dengan kelebihan yang kita miliki akan  melengkapi kekurangan pasangan. Pelengkap adalah sesuatu yang menjadikan kita menjadi utuh.

Sekarang, aku sedang berada di fase "memikirkan soal menikah".

Dan, meskipun beberapa tahun belakangan I never thought about marriage, but now I do. Ternyata, dalam perjalanan fase hidupku, ketika Allah menempatkanku dan mempertemukanku dengan orang-orang dalam fase itu menjadikanku kemudian berfikir, bahwa sejatinya hidup ini cuma soal bagaimana akhirnya, dengan menjalani bagaimana prosesnya.

Akhirnya adalah soal kehidupan kelak di akhirat.

Dan prosesnya adalah tentang bagaimanya menjalani kehidupan di dunia, yang akan jadi bekal utama kelak untuk nasip di akhirat sana.

Dan sejauh apapun aku berlari, mengejar berbagai impian yang telah kurangkai dengan sedemikian cantiknya, akan menjadi sia-sia jika akhirnya bukan sesuai dengan hakikat awal tujuan hidup.

Yakni ibadah, tujuan Allah menciptakan diri ini.

Dan ibadah terlama yang dijalani manusia adalah melalui sebuah pernikahan. Ketika perkara ibadah lain memerlukan persiapan yang tidak sederhana, apalagi soal menikah, butuh persiapan yang benar-benar matang dan dipikirkan dengan banyak pertimbangan.

Meskipun sekarang banyak yang menggaungkan tentang campaign menikah gak butuh cepet-cepet dan bukan masalah umur, tapi for me personally it's not right untuk seorang wanita jika menikah di umur mendekati kepala tiga atau bahkan selebihnya. Why? penjelasannya terlalu panjang kalau kutulis disini. Yang well, everyone's got their own thought and perspective right? so am I.

And now i'm going to that phase, 24 year old isn't just a joke. Dan bahkan I dont even think about marrige? keterlaluan sekali buatku. Kalau tujuan utama hidup adalah buat beribadah, lalu kenapa aku ga pernah sekalipun memikirkan soal persiapan ibadah terpanjang ini?

So the first step that I decided to do is...

Read and learn about it.

It'll take years just to understand and compile the real purpose of my marriage.

I'll write my progress here later, and hopefully maybe until I can find my spouse. So I'll share you guys what and how is my version of a marriage should be?

See yaa!




Komentar