Hai, April

Selamat pagi tetangga kota, suara jangkrik masih terdengar diluar kamar kos temanku, aku masih asyik dengan selimut tebal ini, berlama-lama diatas kasur sambil bercengkrama bersama internet.

Jumat selepas isya, aku naik Tumapel pemberhentian akhir di Malang Kota. Meskipun kebagian tiket tanpa nomor kursi, aku masih bisa duduk--meskipun pindah-pindah. Di kereta, kebetulan tempat yg kududuki paling lama (kali ini tidak diusir penumpang lain) berseberangan dg mahasiswa (terlihat seperti maba, tidak sengaja kudengar dr percakapan mereka) mereka naik kereta untuk pulang ke rumah, dua laki-laki dan dua perempuan terlihat saling kenal, namun mungkin tidak sekenal teman biasa bersama, sebatas teman satu SMA.

Aku seperti biasa, memandangi jendela kaca, berusaha mencari pemandangan di luar kereta. Tapi sial, karena cahaya di dalam kereta terlalu terang, yg terlihat di kaca jendela adalah dua mahasiswa duduk bersampingan (satu laki-laki dan satu perempuan) yang kuceritakan barusan, mereka bercakap tentang banyak hal. Aku yang tidak jauh dr posisi mereka ikut hanyut dalam topik percakapan--meskipun hanya sebagai pendengar. Sesekali si cowok melirik, dan lawan bicaranya terlihat tersipu, saling tebar pesona, melengkapi. Hey.. aku tidak sok tahu, aku hanya menjelaskan saja yang kulihat.
Mereka sangat terlihat jelas, sedang pdkt.

Duduk dibelakangnya, yang juga menghadap searah dg sepasang maba tadi adalah (mungkin) pasangan suami istri. Mereka berdua naik dari stasiun Waru, mengusir mbak-mbak yang tadinya duduk didepanku. Si cewek terlihat sedang jengkel, mereka datang dari gerbong belakang, mungkin sebelumnya salah menemukan nomor kursi.
"Yang, sini loh!" dengan intonasi sedikit ditekan dan keras, memanggil suaminya.
Suaminya kemudian muncul, sambil membopong tas besar, di tangan kirinya memegang android lengkap terpasang headset di telinga. Ekspresinya terlihat.. ah aku tidak bisa membaca ekspresi apa itu. Setelah cek cok sedikit urusan-tas-besar-ini-harus-ditaruh-dimana, mereka duduk khidmad, sambil bergandengan, erat sekali, seolah kereta akan segera menabrak sesuatu. Aku tersenyum (heran) melihat adegan itu, "mesra sekali" komentar dalam otakku. Sepanjang perjalanan sampai Malang Kota, si cowok tak pernah lepas dari handphone nya, mungkin menonton YouTube, kalau main PUBG tidak mungkin, kedua tangannya tidak bekerja. Mana bisa main game sambil gandengan tangan.

Dua pemandangan itu melengkapi perjalananku. Cukup menyenangkan selama lebih dari duajam duduk diam, karena penumpang yg duduk didepanku-meskipun tidak bernafsu mengajakku bicara, dia melemparkan senyum, membuat suasana menyenangkan.

Setengah sepuluh aku turun, temanku sudah menunggu di pintu keluar.

Nah, kesalahan pertama aku tidak memakai jaket. Jadilah, naik motor terasa sangat menyiksa-khusus untuk penduduk Surabaya sepertiku, yg terbiasa menikmati hawa ongkep nan sumpek.

Dikos temanku, aku dan dua temanku tidak langsung istirahat, bercengkrama dengan banyak topik. Temanku ini adalah teman SMP-SMA, kita pernah duduk sebangku waktu kelas 7.

Kunjungan keduaku ke Malang ini tidak terencana samasekali. Kamis, temanku memgirim dm Instagram, mungkin itu basa-basi menanyakan kapan main ke sini. Kujawab apa adanya, tidak serius sebenarnya, tapi juga tidak bohong. Singkat cerita jumat malam aku sudah punya tiket kereta.

Dari dulu, aku memang pengen ke pantai. Duduk manis, menarik nafas dalam-dalam, menikmati debur ombak dan bermain pasir. Sangat kekanakan, terdengar sederhana tapi itu sangat menyenangkan.

Pukul 8 lewat beberapa menit, kami bertiga dengan teman sejurusan temanku berangkat naik motor, temanku menyetir sendiri, di motor yang satunya aku bergantian dengan temannya. Kami tidak ada yg tahu rute perjalanan, hanya mengandalkan Google Maps. Perjalanan hampir duajam dengan sesekali melintir gas dg kecepatan 80km/jam, akhirnya sampai--meskipun sesekali tidak menuruti jalan pintas rekomendasi mbak Google. Sedikit memutar jauh lewat jalan besar, tapi tiada masalah. Aku dibonceng, sambil memandu teman motorku menyisiri jalur yg harus dilewati.

Meskipun hampir 4 tahun mereka berdua tinggal di sini, tak ada satupun yg hafal betul jalanan di luar jalur kota. Hanya mengandalkan perasaan tapi itu sangat cukup, kita hanya nyasar 2 kali, salah berbelok.

Sampai di tujuan sekitar pukul setengah sebelas. Kami tiba di Pantai Nganteb, tidak jauh dari lokasi Pantai Balekambang. Meskipun weekend, pantai sangat sepi, rasanya seperti menikmati pantai sepanjang ratusan meter itu sendiri. Kami memulai dengan sarapan pecel, minum es degan langsung dari tempurungnya, sambil menikmati angin tepat di pinggir pantai--dibawah pohon maksudku.

Selepas makan, kami berlarian mengejar ombak, tertawa, saling lempar pasir, mengejar kepiting-kepiting kecil, sesekali berfoto kemudian duduk dengan nafas tidak teratur dibawah cadas. Panas terik memang, tapi tidak masalah.

Pukul setengah satu, kami ke Mushola, sholat dzuhur. Setelah sholat, kami melanjutkan aktivitas kekanankan yg kusebutkn tadi. Kali ini masih di Pantai Nganteb, di sebelah barat pantai pertama yang kami singgahi. Disana ternyata lebih sepi, lebih banyak gazebo-gazebo, dan tidak sebesar pantai di sampingnya. Puas bermain dan berfoto ratusan jepretan. Kami pulang pukul tiga, sebelum adzan Asar.

Perjalanan pulang hanya mengandalkan perasaan, jadilah sekali kami menyasar, tepat sebelum hujan deras. Aku yg kali ini menyetir, meminggirkan motor, memakai jas hujan. Nah kebetulan ada motor yg juga berhenti, mas-mas bertato dan mbak-mbak berjaket army. Aku mendekati mereka, "mas ini benar jalan arah Malang kan?" Aku bertanya. Si Mbak kemudian membalas pertanyaan ku dengan bahasa isyarat. Tangannya bilang "tidak bisa" sambil menunjuk ke mulut. Aku dengan bodohnya--karena tidak faham, hanya mengangguk, sedikit tersenyum bingung kemudian berlalu. Temanku kemudian tanya "bener Nid?" Kujawab jujur "emboh, mas e gak jawab tak takoni, mbak e yo gak ngomong, malah koyoke mau jelasno nek mereka bisu, pasangan bisu, hebat yo" jawabku tanpa menghiraukan pasangan itu berada 3 meter dibelakangku. Dasar.

Eh tapi bisa jadi mereka bukan pasangan, sok pintar sekali urusan membuat dugaan kamu ini Nid.

Aku kemudian bertanya ke mas-mas yang berhenti sekian detik setelah kejadian itu, benar ini arah Malang.

Pukul 4, sebelum masuk Malang kami mampir sholat di Masjid dekat pasar, lupa nama masjidnya. Yang kuingat, masjidnya bagus, bersih, kamarmandinya luas, aduh banyak definisi lah. Kami melanjutkan perjalanan, pukul setengah 6 sampai daerah UB, makan bakso dan minum teh panas--sambil masih setengah basah tampias hujan. Oh iyaa, perjalanan selepas sholat Asar itu... Aku naik motor ugal-ugalan, berkali kali rem mendadak, terjebak macet, mengegas juga mendadak, serba mendadak.

Setelah mampir sholat maghrib, dan mengatar teman naik motorku ke kosnya, aku dan temanku mampir ke kontrakan teman SMA ku yg lain. Jam setengah 8 malam kami ke café milik teman SMA juga, mengobrol dengan teman sealumni SMA yg lain sambil main uno sampai pukul 12 malam.

Capek sekali sabtu itu, tapi terimakasih semua!

Teman alumniku banyak sekali? Namanya juga santri, anak pesantren.

Komentar

Postingan Populer