22, Mengajarkan Buanyak Hal


Tulisan ini panjaang ada lebih dari 2000 kata, aku sebenarnya penasaran apa alasan kalian untuk tetap melanjutkan membaca tulisan ini? Tulisan model seperti ini adalah yg biasa kutulis di jurnal pribadi. Kalau penasaran, silahkan, monggo, tapi habis membaca jangan... ah pokoknya jangan😂😂

####

Betapa tahun 2019 terjadi tanpa rencana apapun sebelumnya.

Di 2018, aku benar-benar pribadi yaaaaang sangat bodo amat, jarang menaruh prihatin pada masalah apapun yang terjadi, prinsipku life goes on no matter what, kalimat itu benar, tidak salah, tapi tidak baik karena ngebikin aku jadi egp dan yaudah lah.. mau gimanapun hidup juga masih berlanjut, terdengar ogah-ogahan dan pasrah. Kemudian hal itu berlanjut sampai sekarang, di 2019.

Sampai-sampai aku pernah mikir “duh hidupku kok gaonok masalah ya, pengen due masalah deh” sombong sekali. Padahal masalah itu ada, cuman karena terlalu egp jadi gak kerasa😥 (bisabisanya).

Ternyata, kepribadian dan tindakan yang kadang kupilih adalah sumber dari masalah itu sendiri. Sering salah ucap, salah nanggepin di sela-sela percakapan dan kesalahan-kesalahan kecil berbuntut besar lainnya.

Seperti tulisan kegundahan yang kutulis bulan Februari, terlambat kusadari ternyata masalah itu datang karena ulahku sendiri. Aku pernah sekali curhat ke adek Fira masalah rumitnya hubungan pertemananku dengan teman-teman lamaku.

“Gini, dek aku kok ngerasa temenku si G yang dulu dekeeet bgt sama aku, kalau ada apa-apa cerita, mau ada apa gitu ngabari, hal simple bisa dibahas seru, ehhh sekarang nek duduk bareng ae bingung mau ngobrolin apa, mangkel aku dek, teros yaopo iki”.

Tau dijawab apa sama adekku?

“ngonoku samean dewe mbak seng nggawe ngono, nek samean gak ngawali ngajak ngobrol yo gak bakal gaonok obrolan, nek samean gak mikir onok perubahan diantara kalian yo gak bakal dadi koyok saiki, mangkane samean awali, takon kabar, curhat tah cerito-cerito”.

Deep, emang ngomong gampang, tindakan jauh dari kata gampang, bagai dasar sumur ketemu ujung langit, jauh. Apalagi kalau sego sudah jadi bubur kayak awkward nya pertemananku itu, mau benerinnya pakek cara apa? Bahas film yang kebetulan sama-sama disuka? Kalau kata Mojok Ramashoook~

Ada lagi soal ikatan, aku orangnya tidak bisa terikat dengan hal yang tidak formal. Jadi aku punya definisi ikatan formal menurutku sendiri, seperti; organisasi yang aku masuk karena keinginanku, mengambil pilihan berdasarkan keputusanku sendiri (misal kayak pekerjaan, meskipun aku gak suka dan gak berniat masuk buat bekerja di tempat C tp keputusanku adalah bekerja disana, maka aku harus menjalankan ikatanku dengan pekerjaan itu, karena semua yang udah jadi keputusanku adalah tanggungjawabku), kemudian ikatan keluarga, ikatan persahabatan, dan ikatan pernikahan. Urusan selain itu namanya tidak formal, jelas penjelasanku? Semoga kalian mengerti hehe.

Contoh seperti ini, ada temen bilang, “aku seneng deh temenan sama kamu, lama-lama kita nanti kemana-mana barengan terus, kayak si A si B yang kemana-mana mesti barengan”. (kalian pernah kan punya temen misal A dan B yang sahabatan kayak lem, kemanapun berdua, gak temenan sama yang lain, tapi mereka sibuk bareng aja berdua kemana-mana).

Nah, untuk kalimat pertama “aku seneng deh temenan sama kamu” itu kalimat yang wajar, tapi kalau kalimat lanjutannya, tidak nyaman
menurutku, hei? Diputuskan sepihak dong, aku jadi merasa terikat padahal aku bukan siapa-siapa, hanya temen biasa. Menjadi-teman-dekat itu atas dasar saling-sukarela, antara kedua belah pihak. Kalau seperti itu, ya meskipun cuman kalimat harapan, aku tidak setuju, karena sudah menyalahi aturanku soal ikat-ikatan formal dan non-formal.

((Sampai sini kalian bisa faham jalan pemikiranku?))

Waktu itu aku gak nanggepin serious, ya mungkin dia cuman basa-basi, kulempar senyum aja, masak aku bilang gak mau, rusaklah pertemanan. Tapi aku masih mau temenan , ya tapi tau batasan, temen biasa apa iya kita bagi-bagi rahasia? Apa iya kita kemana-mana bareng terus, haisssssssssssssh~

Ribet ya? Gpp lah, inikan aku bukan kamu.

Soal temenan, aku memang kadang gak pilih-pilih, tapi gak bisa kupungkiri kalau aku juga pilih-pilih.  Kata nabi Muhammad kan kalau kita temenan sama orang jual parfum pasti kecipratan baunya, ya itu makanya aku gak sembarang dueket dan terikat sama makhluk bernama teman. Aku punya versi ideal “teman”, yang terlalu panjang dan egois kalau kutulis disini. Bukan berarti aku tidak berteman dengan teman yang tidak masuk versiku, aku masih berteman, toh hanya teman kan. Bukan teman jenis sahabat yang kita biasa *berbagii bersama di pizzq hut*

Karena gimanapun buaiknya temanmu, pasti pernah ada b*ngs*tnya, yang entah itu wajar atau tidak wajar, bisa dimaklumi, atau tidak bisa dimaklumi. (Meskipun kadang sahabat juga bisa bohong😭😭).

Tidak pernah dibohongi teman? Aku gak percaya! Teman sebaikkkkkk apapun pasti pernah bohong kekamu, meskipun gak sengaja atau hal simpel dan kecil. Misal;

Lagi main ke rumah temen, dan lagi di kamarnya “eh *manggil-nama* aku pinjem kacamatamu dong, lagi capek pakai soflens nih, sakit mataku, kebetulan kacamataku lupa gak kebawa, kamu ada kacamata lainkan, gpp minusnya beda toh hampir sama, cuman buat bantu liat baca ini loh *sambil nunjukin buku*”

Dijawab “maaf ya kacamataku cuman ini *nunjukin kacamata yang dipakainya*”.

Dia bohong, kamu tahu pasti dia punya lebih dari satu kacamata minus. Itu mereka sahabat baik, mungkin si teman yang gak mau minjemin punya alasan baik, tapi alasan baik itu jadi perspektif buruk pada temannya, karena dia lebih memilih berbohong daripada menjelaskan maksud baiknya.

Soal pertemanan memang sulit, kalau tidak sefaham, yasudah gak usah dibahas lebih panjang dan diperdebatkan. Toh bicara dan diskusi dengan orang yang gak faham dan gak sefaham itu buang-buang tenaga. Tidak ditemani lagi? Oh ya tidak seperti itu, kita tetep temenan, hanya saja, untukmu pemahamanmu dan untukku pemahamanku, simple. Kalau dia terbuka dengan pemahaman kita ya kita berbagi dan kemudian diskusi, gampang. Kamu juga harus selalu terbuka dengan pendapat dan sudut pandang orang lain, juga cobalah belajar memahami meski tidak sefaham, ojok jadi orang menyebalkan dan bebal.

Berhubungan dengan orang heterogen memang butuh banyak pengertian, kesabaran, kesabaran, dan kesabaran. Itu dengan orang lain, belum dengan pasangan dan saudara sedarah yang kadang lebih susah ngasih pengertian dan kesabarannya.

Yang terpenting selain pengertian dan kesabaran-yang-tiada-batasnya, adalah harus diimbangi dengan komunikasi yang baik. Misal pasanganmu salah, dia gak sadar salah, dan kamu ngalah teros, dengan cuman ngandelin pengertian dan kesabaran ya jontor kamu nak, harus dikomunikasikan, bilang ke dia, salahnya yang mana, bilangnya yang baik, ojok sambil ngedumel dan marah-marah, nek marah otomatis pengertian, kesabaran dan komunikasi tidak diterapkan semua, modar.

####

Hari ini umurku genap segenap genapnya 22 tahun. Tulisan ini didedikasikan untuk diriku yang menua, sedih tapi seneng, kecewa tapi bangga, campur aduk rasanya. Bukan soal perayaan, di kamus hidupku perayaan hari lahir untukku itu sekedar seremonial (meski tidak pernah sekalipun dirayakan), kalau ada yang ngucapin selamat ya terimakasih, kalau ada yang mendoakan yang baik-baik ya doanya balik juga ke yang mendoakan.

Kalau kata Rocky Gerung yang pantes dapat ucapan selamat ketika tanggal lahir kita terulang itu sebenarnya bukan kita, tapi ibu yang berjuang mati-matian melewati proses lahiran. Antara hidup dan mati. Kita enak tinggal mewek sambil nyari nenen karena laper. Lah ibukmu? Mulesnya kontraksi sebelum kamu keluar gak bisa kamu bayangin rasanya kalau kamu gak pernah ngerasain lahiran.

####

Kembali ke bahasan di paragraf pertama. Biasanya, di akhir tahun aku selalu buat bucket list, what to do in this year, harapan-harapan-harapan dan checklist yang sudah dicapai nantinya. Sejenis rencana apapun yang ada di kepala kutulis (meskipun akhirnya tulisannya gak pernah kusimpan lagi, ilang). Urusan kesampean atau enggak itu belakangan, yang penting ada secercah harapan untuk melanjutkan waktu-waktu yang akan datang.

Berawal di 2018, (2017 aku masih bikin bucket list, inget bgt meskipun gak semua terealisasi) di 2018 semua terjadi saja, misal, aku membatalkan blockir-an satu teman sosmed yang sumpah hampir 3 tahun berusaha kuhindari, jadi kita (iya kalau kita, kalau dianya gak nganggep) terjebak di hubungan awkward, mungkin aku sendiri yang baper atau dia yang baper atau tidak ada yang baper atau bagaimana, yang jelas karena bosen dan capek aku memutuskan untuk goodbye, hilang saja kamu sudah, aku muak dengan hubungan gak jelas ini. Dan sepertinya karena mungkin terlalu lama terjebak dalam jatuh-cinta-sepihak merugikan banyak hal buat diriqu~ alaay!!😭

Dengan keputusan tanpa pikir panjang, sekali klik, kami menjalin hubungan lagi, tanpa rencana, what a fool! usaha menghindari selama 34 bulan yang sia-sia. Dan di 2019 ini aku merasa bahwa itu sebuah kesalahan namun juga kesalahan yang benar. Faham? Jadi gini, dengan aku membuka komunikasi lagi itu artinya silaturahmi berjalan dong, baik berarti itu hal benar. Tapi tetep salah menurutku karena aku yang memulai celah dingin itu, karena tindakan tanpa pikir panjangku (dgn me ngeblock, how childish im😥). Aku yang mengakhiri dengan mengeblock sepihak, dan aku juga yang mengawali dengan unblock lalu following kemudian. Tapi tenang, diriqu yg sekarang sudah jadi pribadi yg tidak sama waktu sedang jatuh-cinta-sepihak sama doi seperti yg dulu.

Lucu. Dari kejadian itu, kalian bisa tau kalau kepribadian dan tindakanku aneh sekali bukan?

Begitulah hidup. Kalau tidak bertindak ya tidak hidup. 22 tahun waktuku mengajarkan buanyak hal.

Sebenarnya masih buanyak lagi hal-hal bodoh yang kulakukan, kebanyakan sudah lupa, yang beberapa masih kuingat jelas ya kayak kejadian yang kusebutin tadi.

Saat ini yang kulakukan memang hanya bisa
menertawakan kebodohan demi kebodohan yang sudah terjadi. Tapi bukannkah dengan bodoh itu aku jadi belajar, jadi introspeksi diri, kalau bukan waktu itu toh aku juga bakal ngalamin di lain waktu dan kesempatan, malah rumit ceritanya kalau kebodohan itu terjadi beberapa tahun lagi, berapa lama proses dewasa ini akan memakan waktu? Sampai aku jadi ibuk? Kalau aku jadi ibuk yang gak dewasa gimana anakku nanti?

Tulisan ini juga mungkin akan jadi sebuah kebodohanku di masa lalu ketika kubaca di masa depan. Tapi ya inilah proses menua.

Kenapa aku mau nulis panjang lebar tentang hal ini? Nanti kalau ada yang baca gimana? Ya kan tulisan memang ada untuk dibaca. Kalau kata Maiko temenku “Menulis itu bebas, entah kita nikmati sendiri atau akhirnya kita bagi”. Daripada kusimpan sendiri, lebih baik kuposting disini, aku juga jadi mudah untuk membacanya lagi, mengenang dan mengingatkan kejadian-kejadian itu, lagi dan lagi. Lewat tulisan dan membaca aku belajar banyak hal. Karena aku sering lupa, membaca bisa jadi pengingatnya.

Menurut pengalamanku, orang membaca tulisan (panjang lebar dengan ribuan karakter seperti ini) atau bahkan tulisan berlembar-lembar itu pertama karena penasaran (orang yang buanyak baca biasanya curiosity-nya gede banget, selalu ingin tahu buanyak hal) atau yang kedua karena suka, suka yang sukaaaaaa bgt, karena suka dia akan lanjut baca teros sampek tuntas. Selain kedua hal itu ya mungkin memang karena kebutuhan, kebutuhan bisa lewat keterpaksaan dan kesukaan.

Nah sekarang, siapa juga yang kepo dan pengen tau tentang hidupku? Gak ada, paling juga yg kebetulan nemu tulisan ini di internet, atau orang yang perhatian, kepo berlebih, kurang kerjaan, atau sedang suka sama aku, siapa? Ya entah, kamu mungkin yang lagi baca sekarang hehe. Atau mungkin aku sendiri yang karena kurang kerjaan jadi nge scroll tulisan-tulisan di blog ini. Atau mungkin jugaa, kamu yang diam-diam sedang jatuh cinta ke aku, dan butuh banyak informasi perihal diriku, jadi scroll-scroll tulisanku, ciye... Ayo bilang langsung aja ke aku, jangan jadi pengagum rahasia (ya Allah pd banget aku astaghfirullah😭😭😭).

Sampai umur seginipun aku gak pernah tuh saling suka-sukaan terus kayak model pacaran (siapa peduli hey??), manggil yang-yangan, aduh kasian sekali masa mudamu nak. Sudah 22 tahun dan ternyata jomblo dari embrio. Kalau suka temen kelas sebelah ya sering, namanya juga remaja labil, ganteng dikit seneng, pinter dikit seneng, keren dikit seneng, senyum dikit seneng. Semua itu tindakan konyol memang, tapi hampir semua orang pernah ngalamin kan. Jadi yaaaa wajar.

Aneh nya semenjak tamat sekolah dan duduk di bangku kuliah, kayak sekarang ini, hal remeh-remeh yang bisa buat aku-suka-dan-jatuh-cinta ke temen lawan jenis itu tidak terjadi lagi, sepertinya diri ini terlalu bosan untuk melakukan hal semacam itu. Membuang-buang waktu. Padahal.. beuh jatuh cinta itu bisa jadi memotivasi untuk ngelakuin hal-hal hebat, aku berani jamin karena menurut pengalamanku sendiri!!! misal, aku jatuh cinta ke temen yang suka tentang sejarah kejayaan konstantinopel, nah aku juga dengan-keterpaksaan-tapi-rela-dan-bahagia akan menghabiskan waktuu untuk cari-cari informasi tentang konstantinopel, hanya agar aku bisa faham kalau-kalau doi ngajak ngobrol soal itu, segila itu memang.

Contoh lagi, doi gak pernah tau ada makhluk jenis aku di bumi, yg sedang hidup tidak jauh dari kelasnya, maka aku bakal menonjol, belajar tidak-mati-matian-sih ya cuman belajar aja, tapi aku punya niat besok-pas-lulusan-aku-harus-bisa-maju-buat-nerima-peringkat-kelas dan di kelas 3 smp, ternyata aku peringkat 3 dong, maju kedepan dihadapan seangkatan. Tapi hal itu mustahil buat doi bisa kenal dekat denganku, tapi semustahil-mustahilnya itu, seenggaknya dia tau ada aku, meskipun samasekali gak kenal dan gak tau kalau makhluk lugu ini sedang jatuh cinta sama dia, setidaknya dia sudah tau kalau aku ada, makhluk wanita yg tidak jauh dari kelasnya. Konyol sekali.

Itu salah satu pengalaman hidupku dari jatuh-cinta-sepihak, hanya dari sudut pandangku, doi doi yang ada banyak sekali itu samasekali tidak punya rasa sama atau bahkan tak pernah tau kalau aku sedang jatuh cinta kepada merekaa~ uwowowoo~

Namanya semua orang berproses, hanya caranya saja yang berbeda-beda. Tujuannya satu, untuk pembelajaran lalu jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, urusan dia berbenah atau tidak itu keputusan pribadi, hidup sudah menjalankan pekerjaannya. Tinggal manusianya aja yang memutuskan, loh uwenak toh.

Nah proses hidupku yang mudah jatuh-cinta-sepihak itu mendewasakanku (asyekk) jadi efeknya sekarang aku gak-mudah-jatuh-cinta-lagi. Sudah warek mungkin.

####

Semua orang struggle di hidupnya masing-masing, tentunya dengan porsi yang berbeda. Tuhan gak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. Jadi gak usah merasa kayak kalian paling sakit sendiri, paling menderita sendiri, paling gak beruntung sendiri, paling pengen mengahiri semuanya sendiri. Semua hal itu dinikmati secukupnya, seneng terlalu seneng juga gak baik, sedih semakin larut juga tambah gak baik.

Semua ada porsi sakit dan bahagia nya masing-masing. Dengan kita berbenah, menjadi lebih baik dengan belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, kita bisa ngasih kesempatan yang lebih baik ke orang disekitar kita, ke anak kita kelak misalnya (kalau kita diberi titipan anak) ke saudara atau teman kita mungkin, ke pasangan kita, kalau kita bisa ngasih dan nulari kebaikan ke mereka, kenapa enggak, hidup cuman sekali coy.

Aku nuliis ini sebenarnya buat nasehatin diri sendiri, semakin tua, semakin banyak pengalaman, semakin banyak pressure, semakin banyak kebutuhan, semakin banyak masalah, semakin banyak tanggungjawab, semakin banyak juga yang harus dipikirin aku harus semakin kuat dan semakin jadi pribadi yang baik. Meskipun tidak bisa jadi yang terbaik, setidaknya sisi burukku tidak ku asah, dan sisi baikku kuajak lebih banyak lagi menjelajah ketempat-tempat yang belum dia kunjungi.

####

Dear diri, kalau di masa depan aku berkesempatan membaca ini, jangan lupa, aku tak pernah putus harapan, selain ada aku yang selalu bisa bangkit lagi, aku ada Allah yang menjadikan aku ada, Dia sebaik-baik tempat kembali dan menaruh harap, doa, keluh kesah dan sandaran.

Dear diri, jangan sombong dan besar kepala atas capaian-capaian yang aku raih. Aku yang sekarang tak bisa jadi aku tanpa aku yang dulu. Apapun itu, aku tetap mencintai aku meski aku pernah jadi aku versi buruk di masa lalu, atau aku yang sedang dan akan selalu berusaha berbenah di masa sekarang.

Dear diri, 22 tahun itu waktu yang lama. Kamu berproses dari bayi yang masih disuapin dan dituntun untuk belajar berjalan sampai bisa berlari seperti sekarang, banyak jatuh bangun yang sudah aku alami. Allah kasih aku kemampuan lebih, bisa mendengar, melihat, bicara, berjalan, berpikir, dan merasakan adalah karunia besar. Kalau aku sekarang tidak bisa mencapai seperti orang-orang hebat, itu hanya karena aku tidak memanfaatkan secara maksimal apa yang ada di diriku.

Dear diri, bersyukurlah, meskipun aku punya kepribadian yang rumit, tempramen yang tinggi, dan mood serta kelakuan yang kadang seenakku sendiri, aku masih diberi teman dan keluarga untuk sekedar berbagi keluh kesah, sedih, cinta, cerita, dan banyak hal untuk diperbincangkan dan dibagi bersama.

Dear diri, jangan pernah berhenti untuk jadi pribadi yang selalu ikhlas, dan selalu berusaha ikhlas. Meski sulit dan menyakitkan, semua itu akan berlalu, aku dongkol, marah, dendam, ataupun ikhlas semua itu akan berlalu, jadi plis, jangan sakiti diriku dengan hal buruk yang merusak hati, ikhlaskan saja, dengan tidak ikhlas aku akan terus menyakiti diriku sendiri. Membuat lubang di hatiku. Ingat kata abi, semua hal berawal dari hati, seperti niat. Penyakit yang aku punya sekarang itu karena aku suka dendam, marah dan tidak ikhlas atas ujian dan cobaan yang menimpaku. Belajarlah untuk berdamai dengan masa lalu. Belajarlah untuk neriman, ikhlas, sabar, dan jadi pribadi yang lembut hati, bukan yang keras kepala dan mudah tersinggung.

Dear diri, jatah waktu hidupmu semakin berkurang, ingat tujuan hidup adalah ibadah, semua ada pertanggungjawabannya, use your time wisely.

Sampai jumpa di lain kesempatan, jangan sakiti aku dengan keputusan-keputusan bodoh yang merugikanku sendiri. Ingatt aku versi masa lalu yang menjadikanku pribadi yang baik seperti sekarang ini, jadi jangan lelah untuk selalu berbenah untuk selalu jadi pribadi baik dan menebar manfaat.

Aku, versi Agustus 2019.

Komentar

Postingan Populer