#2 Insecurity (persiapan magang)


Bagi mahasiswa pendidikan, kemampuan mengajar di kelas adalah sebuah keharusan. Berbagai teori-teori juga metode pembelajaran dipelajari dan kemudian dipraktekkan lewat kegiatan magang, karena memang itu semua mata kuliah wajib yang bakal mencetak sarjana pendidikan, jadi harus mumpuni untuk mengolah dan menjalankan manajemen pendidikan. Tapi sepertinya meskipun aku juga belajar soal hal itu, sebagai mahasiswa biasa-biasa saja, yang merasa bahwa aku samasekali gak punya bakat me-ngajar, nyaliku ciut. Karena guru itu, menurutku bukan seperti aku ini, aku belum sampai pada titik itu. Mesti negative thinking tok aku iki.

Berkali-kali sudah simulasi ngajar, dengan metode yang berbeda-beda, tapi sampai sekarang aku masih aja ngerasa kecil, mungkin kabeh koncoku sekelas yo sepemikiran ya, cuman mereka gak nulis di blog seperti iki, iyo kan?

Why do i keep thinking about my insecurities? anyway i've got many things to worry about. Padahal hidup harus dijalani bukan dihadapi, tapi maaaaaaaaan, menjalani yo sekaligus menghadapi kan? dan caraku adalah dengan terlalu mencemaskan buanyak hal.

Damn, meskipun itu sangat sangat tidak sehat, memang, iya!

Koenjinya adalah; jadi pribadi yang percaya diri. Lalu gemboknya? ya insecurity milikku. Rasa-rasanya aku selalu terjebak dalam ruangan yang digembok dan aku gak punya kuncinya. Jadi plis, sekarang buka gembok, siapin kuncinya. Meskipun sadar gak sadar, aku sendiri yang ngurung diri dalam ruangan dan juga nge-gembokin ruangan itu. 

Pusing gak? intinya aku sendiri yang buat semua jadi ruwet.

Dari dulu.

Seperti halnya persiapan magang, come-on, kalau kuhitung mundur ya, karena sekarang tepat pertengahan bulan Oktober, sebulan dua hari lagi, magangku dimulai. 18 November berangkat.

Masalahnya, magang ini beda, temen-temenku sekelas mayoritas ambil magang reguler biasa, di tempatin di sekolah-sekolah yang ada di Surabaya, sedangkan aku jauh di negara gajah putih sana.

i know i know, it is my choice.

Back then, waktu mutusin pengen ikut magang ini, aku sama sekali gak mikir konsekuensies (ditambahin plural s karena ada banyak) yang bakal kuhadapin waktu ngejalanin magang. Yah, namanya juga masih mahasiswa tingkat awal, yang belum faham konsep jadi mahasiswa akhir itu kayak gimana hectic-nya.

Dan sadly, tahun ini peminat yang ikut cuman 6 orang dari prodiku, dulu kating ada lebih dari hitungan jari yang ikut, sekarang tinggal 4 aja, 2 nya mahasiswa Thailand.

Dari keempat orang ini, aku satu-satunya tipe orang yang gupuhan, cemas berlebih, dan harus persiapan apa-apa itu dari jauuuuuh-jauh hari. Tapi karena kebawa sama yang lain yang modelnya jauh banget dari aku, jadi ikutan (terlihat) santai, padahal woi ambyar aku. 

Agustus lalu, waktu temen sekelas sibuk KKN di Jombang, aku libur dan spent almost 2 months di rumah. Kesibukan cuma bantuin umik di pasar, belajar toefl-ielts (jarang sih) dan persiapan belajar thai (yang ternyata metodeku salah lol, harusnya belajar langsung percakapan saja, tapi aku malah sibuk ngafalin dan baca alphabetnya).

Setelah libur selesai, kegiatan KKN temen-temen juga selesai, mahasiswa kembali ke rutinitas semester baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Bedanya kali ini yang ikut magang reguler, pasca KKN sebulan selesai, langsung disambung magang PPL selama 2 bulan. Dan yang ikut magang internasional, tetep kuliah seperti sedia kala.

Disini konsekuensi-konsekuensi itu mulai bermunculan. 

Karena jadwal semua mahasiswa gak sama, dan tetap ada jadwal perkuliahan, harus ada persetujuan gimana kegiatan perkuliahan di kelas akan berlangsung. Kami berenam, masuk kuliah sesuai jadwal dosen yang mau ngajar (gak semua dosen mau ngajar sesuai jadwal, karena mayoritas temen sekelas sedang sibuk magang PPL) dosen lebih milih memulai kelas setelah kegiatan PPL selesai, sedangkan pas PPL selesai, kami berenam berangkat ke Thai selama 3 bulan.

Naniiiiiii???

Menyebalkan bukan, yah namanya juga minoritas, dan juga kita gak bisa maksain jadwal dosen yang padet, juga gak penting banget ngajar cuman enem mahasiswa, ye kan?

Dari total 7 mata kuliah, cuman 2 mata kuliah yang dosennya dengan sangat sedia menawarkan diri untuk memulai kelas sesuai jadwal. Discourse Analysis pertemuannya jadi dipadetkan, seminggu kita ada 2 pertemuan, 1 pertemuannya virtual class melalui google drive. Untuk Discourse, uts dan uas bisa dilaksanakan sebelum kami berangkat. Makul satunya, Literary Criticism, dilaksanakan senin sore pukul 4, temen-temen yang pulang magang bisa langsung mampir kampus untuk kuliah.

Lalu 5 mata kuliah yang lain gimana? kuliah akan berjalan online untuk kami berenam, jadi magang sekaligus kejar materi, tugas, uts dan uas. Semoga kami kuat.

Pulang magang, gak ada leyeh leyeh. Februari adalah jadwal seminar proposal skripsi, yaaaang.... pasti kami berenam belum bisa bimbingan dengan dospem masing-masing (jangan harap dospem mau bimbingan online, itu hal fiktif belaka) jadi pulang-pulang kami harus kejar bab 1 2 3 agar bisa sidang proposal (susulan) sesuai jadwal, jadi bisa lulus di semester depan.

Senior sudah banyak mengeluh waktu kami tanya-tanya tentang sedih-senangnya magang internasional. Memang hal berat yang kusebut panjang lebar itu konsekuensi dan tanggung jawab, harus dilaksanakan karena memang sudah pilihan yang diambil.

Kalau pengen gampang ya kenapa gak ikut magang reguler aja, for me kesempatan kayak gini gak datang dua kali, jadi selain jadi challage juga pengalaman lintas internasional pasti beda dengan yang biasa. Karena aku orangnya lembek, gak pedean, harus ada sesuatu yang bisa ngerubah dengan pressure kuat yang bisa buat aku survive, bukan cuman lewat hal yang biasa.

***

Minggu lalu pembagian tempat sekolah sudah disetujui, aku ditempatin di Sadao district, yang ternyata sendirian, pisah dari semua temen seberangkatan. Sebenernya yang kebagian sendiri bukan cuma aku, satu temenku juga sama. Bedanya, tempatku paling jauh di deket perbatasan Malaysia.

Kegiatan magang kami bekerjasama dengan asosiasi PISA (Private Islamic School Association of Songkhla), baru saja kemarin dari pihak PISA datang ke kampus untuk merampungkan beberapa keperluan dan menyampaikan informasi perihal kegiatan kami, waktu rapat dan ditanya siapa yang kebagian di Sadao, aku angkat tangan. Tanpa babibu semua temen mahasiswa thailand ketawa karena bilang tempatku paling jauh dari yang lain.

Tapi ya mau gimana lagi, ini tantangan harus bisa survive dan nempa diri buat jadi ibu guru yang ah merinding aku nulisnya.

****

Udah ya gini aja dulu, sampai jumpa di tulisan perjalananku waktu disana besok, doakan yang baik-baik yaaaa, semoga aku disana bisa jadi ibu guru panutan dan bisa ngajar dengan baik.

Bye.

Oh iya, foto di atas itu, waktu sabtu lalu ke polres sendirian ngurus SKCK untuk keperluan pembuatan visa, kalau sempet kutulis lah gimana cara ngurus skck di polres Gresik, btw mbak petugasnya onok seng lambene pedes seru :( sarkas tok nek ngomong, tapi petugas cowoknya baik-baik kok.

ketiga temenku yg berangkat magang semua ktp Surabaya, jadi mungkin langsung ke polda, kalau aku harus ngurus ke polres dulu baru bisa nyetak di polda.

udah ya, bye lagi wkwkwk.

Komentar

Postingan Populer