april bulan apa




Aku sudah putuskan jauh-jauh hari, kalau April bakal jadi bulan hectic. Januari kemarin kegiatanku full dengan magang di sekolah setiap weekdays, dari pukul 7 pagi sampai setengah 5 sore, yang weekend nya kuhabisin setengah hari buat KKN, mengajar di sekolah taman pendidikan Al-Quran dekat sekolah tempat magang.

Awal February, yang karena weekdays masih magang, aku berkegiatan sebagaimana anak intern di sekolah pada umumnya, yang sekaligus merangkap menjadi mahasiswa tingkat akhir, ngerjain laporan, nyiapin materi ngajar, buat soal, ngerjain uas online, dan mikirin outline proposal skrispsi. Walau kalian bacanya terlihat sibuk banget, hidupku kenyataannya sangat membosankan. Karena ku suka banget nonton filem, itu satu-satunya hal menyenangkan ditengah kesibukanku yang keliatannya seabrek.  Sesibuk itu, aku masih bisa nyolong waktu buat nonton filem. Setelah rentetan kegiatan di tempat program internship selama kurang lebih 9 minggu—yang jaraknya ribuan mil dari rumah, pertengahan bulan February aku pulang ke Surabaya.

The rest of February berjalan lumayan sibuk, dua minggu selama di Surabaya selalu tidur di rumah temen dan numpang di kosan temen (karena gapunya kos dan lagi sibuk parah buat cari kos baru), sambil nomaden juga ngelanjutin proposal skripsi yang syukurnya udah kucicil sambil doing internship di bulan sebelumnya, hasil tetesan keringat itu akhirnya membawaku untuk bisa sidang proposal gelombang pertama, 27 Februari 2020.

Seminggu setelah sidang, kuhabiskan buat persiapan pindahan kos, yang Alhamdulillah langsung dapet koskosan yang cocok. Tanggal 3 Maret pindah, lalu tanggal 6 nya jadwal misi penting, ke Malang, pergi liburan. Aku ambil jadwal kereta terakhir, yang sampai disana tepat sebelum tengah malem, kayak tenggat waktu pulangnya cinderella. Apasih?. Oh iya ada drama panjang di detik-detik sebelum sampai stasiun, dari hujan deres, lama dapat driver goride, dan waktu mepet. Untungnya, as usual aku ga telat, tapi sukses gupuh dan ngerepotin banyak temen, buat yang belum tau, aku tipe manusia yang punya kebiasaan panik berlebihan. Tapi urusan itu, besok2 aku pasti bisa ngurangin kok, sabar aja, ada waktunya.

Sampai Malang, aku uda ditungguin temen yang bisa kutumpangin dan ngajak jalaan-jalan selama di Malang. Liza. Kita udah hampir setahun gak ketemu waktu itu. Aku ngabisin waktu di malang 5 hari, udara di malang terlalu menyenangkan untuk ditinggali waktu weekend saja. Tanggal 7 di hari sabtu aku ada janji ketemu temen di Matos, janji ketemu pukul 1 siang yang awal rencana cuma 2 jaman aja, jadi sampai jam setengah sepuluh malam, lebih dari 7 jam kita makan, dan muter-muter ga jelas di matos dan transmart. Karena di luar hujan, jadi kita kejebak dan males aja pulang.

Hari minggu, aku ngabisin waktu dikos aja, nonton drama dan filem sudah sangat menyenangkan. Awalnya punya rencana untuk ke pemandian sumber air, tapi karena weekend, pasti ramai, sumber jernih pasti jadi keruh karena banyak orang. Jadilah rencananya diganti senin saja. Tapi senin, temenku ternyata mendadak ada janji ketemu dosen di kampus, aku yang malamnya begadang ngabisin episode drama jadi punya waktu tidur lebih di hari senin, di luar sana orang lain berkegiatan, seninku kuisi dengan sleeping for the daylong.

Selasa datang, subuh waktu masih gelap aku udah siap, mandi dan sebagainya. Kita berangkat ke Malang selatan pukul setengah 5, tepat usai sholat subuh. Tujuannya ke mana lagi kalau bukan ke pantai. Pukul setengah tujuh sampai, kami pengunjung pertama yang datang di pantai itu, bahkan penjaga tiket masuk pun belum datang. Setelah sibuk main-main di pantai paling ujung timur, kami ke paling ujung barat, ada penjual pecel dan degan. Kami sarapan disana. Karena sudah cukup bersenang-senang dan mulai bosan, tepat tengah hari kami kembali ke malang, kali ini mampir ke air terjun dekat pantai, tapi karena mendung dan ternyata waktu sampai medan terlihat menyeramkan, kami putar balik.

Tujuan dialihkan ke sumber Sira, pemandian sumber air. Disana, Cuma ada 4 rombongan pengunjung termasuk Liza dan aku, juga anak-anak penduduk desa yang sudah berenang berjam-jam sebelum kami datang.

Menghabiskan liburan waktu weekdays adalah pilihan tepat, hal ini tentu khusus untuk manusia-manusia yang tak punya kegiatan tetap dan jadwal tetap sepertiku. Liburan jadi lengkap, tidak banyak pengunjung yang datang. Pukul 4 kami kembali ke Malang kota, sekitar magrib sampai.

Besok paginya, aku kembali ke Surabaya.

Rabu, 11 maret itu, di Surabaya corona belum seterkenal sekarang. Kamis aku ada jadwal di rektorat, penyambutan kegiatan internship yang kutulis di awal tulisan ini. Sorenya, aku ke main ke kontrakan temen, sampai magrib. Jumat sabtu minggu seninnya kuhabiskan dengan tanpa sedikitpun menyentuh revisian proposal skripsi, hidup berjalan santai sekali, kegiatanku hanya jalan ke mall untuk beli novel terbitan baru; Selena dan Nebula, ngedekor kamar kosan baru, cari diskonan makanan, dan juga main ke temen yang habis kecelakaan, he got a surgery in his right arm, patah tulang.

Lalu selasa 17 Maret pun datang. Virus Corona mulai terkenal, pekan itu debut pertamanya di Indonesia . Tapi, aku berkegiatan seperti biasa, belum ada karantina-karantina seperti sekarang. Bedanya pagi itu aku sempat masak. Tepat sebelum masak, bulek telfon kalau beliau sepagi itu sedang berangkat ke malang, jemput sepupu pulang, karena udah ada pengumuman resmi sekolah dan kampus officially diliburin karena virus itu, bulek bbilang ayok ikut pulang sekalian, nanti dijemput—“saiki aku wes nak tol”  bilangnya disambungan telepon. Lah cepet banget bulek. Lalu, setelah sarapan dan belum juga jam 11, beliau telfon lagi, “aku wes balik teko malang iki, wes nak tol tutuk masjid agung” .  Dan kalimat lanjutannya lebih menjengkelkan, kupikir dijemput itu tepat berhenti dikos, aku sudah share loc. Ternyata kemudian bilang lagi kalau ditunggu di PGS, sekalian tengkulak barang dagangan.

Oke, aku masih santai, pukul 11 baru pesan goride, karena panik dan teledor adalah aku, yang kubawa di ransel cuma laptop, Selena, skincare seadanya (bukan sebox lengkap), carger hp dan powerbank tentusaja.

Waktu sampai PGS, temen sekamar wasap, bilang “nida, cas laptopmu lo ketinggalan”  well okay, gapapa orang aku dirumah paleng 3 hari hahahaha *kalimat dipikiranku*.

Ternyata, worse things happened. Corona gak mau debutnya sia-sia, dia makin menjadi, yang awalnya sekolah pada tutup, sekarang pekerja jadi work from home, angktan umum dibatasi, lalu jalanan juga ditutup.

Aku jadinya bukan hanya 3 hari dirumah.

Terhitung sekarang sudah 18 hari.

And most of all those days, I spent by WALKING AROUND IN THE INTERNET—termasuk ga ngerjain revisi proposal skripsi.

Di 18 hari itu, kemarin, nenekku meninggal, the saddest thing yang terjadi selama cuti panjang ini. Dan waktu beliau mulai sakit dan ga sadar, aku juga sakit di rumah, hampir seminggu ga keluar rumah karena sesak nafas. No I wasn’t get any symthomps of cornona, im an asthmatic so I get easily have shortness of breath kalau setres, dan kecapean. Setres karena kebanyakan nerima info soal corona, dan kecapean karena sibuk internetan.

1 April kuputuskan memutus rantai kegiatan useless yang kulakukan belakangan. Pagi-pagi aku jadi rajin banget nyapu dan bersih-bersih rumah, lalu baca-baca sumber teori untuk skripsi, waktu menjelajahi internet aku sempet nyari berbagai macam buku, dimana lagi kalau bukan di libgen.

Seharian di tanggal satu april itu berjalan produktif, aku juga sempet nulis what to do list, sorenya aku juga sempet nungguin embah, hari itu sudah 3 hari embah hilang kesadaran. Di hari-hari sebelumnya aku juga sempat menunggui embah, beliau sempat senyum ke arahku meski hilang setengah sadar. Malam satu april waktu pulang, Abi duduk di teras. Aku ikut duduk, bilang gimana kalau embah dipasang infus, sudah 3 hari gabisa minum. Abi bilang, mbah terlalu tua untuk dipasang infus, percuma, yang bisa kita lakukan sekarang Cuma bergantian menunggui beliau, semua kehendak Allah.

Besoknya sebelum subuh, abi ke kamarku buru-buru membangunkan, bilang “mbak ayo ke embah”. Aku setengah sadar duduk, belum bisa mencerna informasi, kemudian ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Pas masuk rumah embah, kursi ruang tamu diangkat keluar, umik terlihat menyapu, dan sepupuku yang sepanjang hidup tinggal dengan mbah, menangis, memelukku erat sekali. Aku ikut menangis, baru 100% sadar.

Kemarin, mbah masih sempat bisa tersenyum, sekarang senyum itu sudah tiada.

Pukul 6, aku dan abi menjemput adek. Mengajak pulang untuk ikut menyolati. Prosesi pemakaman terbilang cepat, karena kesepuluh anak embah semua ada disini, tidak perlu menunggui siapapun lagi. Dan meskipun ada pelarangan jamaah di masjid dengan ketentuan-ketentuan, sholat jenazah masih diikuti oleh banyak jamaah. Wilayah kami Alhamdulillah bukan masuk wilayah yang ada ODP, PDP bahkan pasien positive corona.

Dan hari ini, hari ke-3 April, bangun tidur aku sudah siap mandi, dan rajin sekali sarapan, semangkuk potongan semangka dan tomat, juga sepiring nasi dan ayam goreng. Lalu duduk dengan jumawa di depan laptop sambil melanjutkan revision skripsi. Pukul 9 bimbingan online dimulai, ada sedikit masalah, tp alhamdulilllah 20 menit waktu dengan dospim satu berjalan mulus, lebih banyak masukan dari beliau daripada pertanyaan.

Dan selebihnya, waktu kembali kuhabiskan untuk mengumpulkan semangat sambil menulis tulisan ini. Aku juga sempat buat es kopi viral tiktok, yang ternyata uwenak dan palin-paling nanti malam aku susah tidur.

Sudah dulu, sudah jam 4 sore. Aku mau mandi. Dan melanjutkan membaca berbagai buku pdf rujukan untuk ngerjain skripsi.

Bye.


Happy self-quarantine you all.

Komentar

Postingan Populer