London versi aku remaja
![]() |
| Sherlock Holmes Museum |
Terdengar
keren saja, London ibukota Inggris, dimana bahasa Inggris asalnya dari sana--pikirku waktu tahun umurku masih hitungan jari.
Waktu seumuran SD, otakku belum menerima banyak informasi, bagaimana bisa
Inggris yang letaknya di benua eropa, bahasanya bisa digunakan oleh orang-orang
di benua Amerika, ribuan mil jaraknya dari Eropa. Ya meskipun tidak semua orang
Amerika berbahasa Inggris, tapi orang awam pasti berfikir Amerika identik
dengan bahasa Inggris. Sebatas berkulit terang, tinggi, mancung, mata berwarna selain coklat, dan punya
rambut blonde, pasti dianggap bule—yang otomatis juga berbahasa Inggris.
Padahal gak semua bule berbahasa Inggris.
Kalau ditilik dari sejarah awal mula bahasa Inggris bisa digunakan di daratan Amerika, orang Inggris lah yang membawa bahasa ini ke sana. Maka gak heran, karena percampuran budaya jadilah American English yang memiliki accent serta dialect jauh dari asalnya yakni British English. Ya kan di Amerika ada banyak manusia dari berbagai penjuru dari mulai Afrika, Asia, dan Eropa (bisa dikatakan hampir semua jenis orang dari budaya manapun ada disana). Di Amerika sendiri, ada banyak dialek yang berbeda, di daerah pantai timur dan barat memiliki logat dan pengucapan yang berbeda.
Di Inggris selain menjadi sentral lahirnya bahasa Inggris, juga menjadi istimewa (buatku sebagai pecinta Sherlock) karena di London menjadi tempat yang sangat iconic dengan tokoh Sherlock Holmes dan
John Watson. Sampai-sampai ada museum Sherlock yang beralamat di 221B Baker Street, Marylebone , London NW1 6XE, UK. Tempat dimana flat detektif Holmes dan John Watson
berada. Meskipun tokoh fiksi, Sherlock seperti nyata ada, bahkan patungnya juga berdiri kokoh di 4 Marylebone Rd.
Semua orang
memiliki pengalaman tersendiri tentang bagaimana pertamakali menerima
informasi mengenai sesuatu. Begitu juga denganku, ketika menerima informasi tentang sosok Holmes. Sherlock Holmes sudah menjadi
icon detektif hebat bagi banyak orang, di berbagai rujukan film, cartoon,
bahkan cerpen dan novel. Aku mengenal figur detektif Sherlock pertamakali melalui kartun
Tom&Jerry. Di salahsatu episodenya, terlihat Jerry dan Tom (di link itu bukan adegan yang kutonton, hanya sebagai gambarann saja) memakai topi kotak-kotak
dan membawa alat khas detektif—kaca pembesar. Yang kemudian, dimanapun kedua hal tersebut, selalu dikaitkan
dengan detektif-detektifan, ah tidak lupa rompi coat warna cream. Aku baru tau waktu membaca detektif Conan kalau penggagas seragam detektif adalah Sherlock dan John.
Lalu, waktu
duduk di SMP, aku mengenal komik detektif Conan, kartunisnya pak Aoyama Gosho ternyata penggemar
berat sir Arthur Conan Doyle, penulis novel Sherlock Holmes. Terbukti, dia
dedikasikan tokoh detektif cilik dalam komik detektif Conan dengan nama Conan
Edogawa, terinspirasi dari nama bapak Arthur Conan Doyle, juga jalan cerita dalam memecahkan kasus-kasus yang terjadi di dalam komik.
Waktu menjadi penggemar komik detektif Conan, aku belum mengenal Sherlock Holmes melalui novel versi tulisan Conan Doyle. Barulah waktu kelas 10 SMA, dapat pinjaman salah satu novel Sherlock Holmes versi terjemahan. Meskipun bahasanya sangat tidak novelis sekali karena versi terjemahan, maksud dan alur cerita lumayan bisa kutangkap.
Lalu, kemudian barulah berkesempatan mengenal Sherlock dari serial TV BBC, ada 4 seasons, setiap episodenya entah sudah berapa kali kutonton—logat british dan adegan cerdasnya Sherlock ga pernah ngebosenin. Episode pertama di season pertama, Study in A Pink sukses membuatku jatuh cinta, dengan latar cerita yang diperbarui dan disesuaikan zaman sekarang, ceritanya tidak jauh berbeda dengan versi tulisan asli seabad lalu. Mark Gatiss, salah satu penulis dan pemeran sebagai tokoh kakak Sherlock, Mycroft Holmes sukses menulis cerita dengan begitu epiknya.
Waktu menjadi penggemar komik detektif Conan, aku belum mengenal Sherlock Holmes melalui novel versi tulisan Conan Doyle. Barulah waktu kelas 10 SMA, dapat pinjaman salah satu novel Sherlock Holmes versi terjemahan. Meskipun bahasanya sangat tidak novelis sekali karena versi terjemahan, maksud dan alur cerita lumayan bisa kutangkap.
Lalu, kemudian barulah berkesempatan mengenal Sherlock dari serial TV BBC, ada 4 seasons, setiap episodenya entah sudah berapa kali kutonton—logat british dan adegan cerdasnya Sherlock ga pernah ngebosenin. Episode pertama di season pertama, Study in A Pink sukses membuatku jatuh cinta, dengan latar cerita yang diperbarui dan disesuaikan zaman sekarang, ceritanya tidak jauh berbeda dengan versi tulisan asli seabad lalu. Mark Gatiss, salah satu penulis dan pemeran sebagai tokoh kakak Sherlock, Mycroft Holmes sukses menulis cerita dengan begitu epiknya.
Sherlock Holmes ditulis tahun 1890-an—if I’m not mistaken ya.
Nanti deh aku riset buat tulisan selanjutnya.
Awalnya
tulisan sir Arthur Conan Doyle yang menceritakan sosok Sherlock Holmes itu
diterbitkan di koran, dengan edisi mingguan, pada kolom cerita pendek yang
ber-episode bersambung tiap edisinya.
Nah, pembaca
ternayata mulai menyukai sosok Sherlock, si lelaki tinggi kurus, keriting,
sociopath yang sekaligus ahli kimia di laboratorium.
Berbagai
trik detektif yang terlihat tidak masuk akal dan rumit di dalam novel, sudah
tergambar dengan sama rumitnya dengan yang ada di komik detektif Conan. Semenjak
jatuh cinta dengan komik tersebut, juga dengan berbagai tokohnyat, seperti Sinichi Kudo, Conan
Edogawa, Kaito Kid, Haibara, Ran Mouri, profesor Agasa, detektif Chiba, dan Ayumi—ah ada banyak, tidak kemudian membuatku jatuh cinta dengan Tokyo, Osaka ataupun
Jepang. Hanya sebatas itu saja. Malah membuat London menjadi terbayang makin
hebat. Apalagi edisi ketika detektif Kogoro Mouri gak sengaja nemuin kucing
kesayangan Bu Diana yang ilang, lalu keluarga Mouri—Ran dan Kogoro diundang ke
Inggris untuk jamuan makan yang tiket dan akomodasi hotel sudah disiapkan semua oleh bu Diana (ya jelas Diana Spencer kan ratu Inggris wkwkw) sebagai ucapan terimakasih sudah nemuin kucingnya. Lalu
adegan demi adegan yang terjadi di London, antara Conan, Ran, dan Shinichi,
aduhh sudah-sudahhhh.
Alur cerita yang dibuat Aoyama Gosho sangat menakjubkan, membuatku makin cinta London (karena dalam komik, Shinichi juga suka London hehe). Dibalik cerita hebat di detektif Conan, inspirasinya datang dari sosok
Sherlock, si detektif swasta asli London.
Kalau aku
bisa kesana, ke London, jujukan pertama akan rumah Sherlock, mampir ke patung
Sherlock, barulah ke jam besar Big Ben. Dan nyapa kemudian ngajak ngobrol orang
lokal yang berlogat kental London.
Itu
keinginanku dulu.
Sekarang? Entahlah, semenjak pandemic corona mengintai di penjuru belahan bumi, juga banyak hal yang terjadi selama aku berhenti mengikuti edisi komik conan, aku jadi kurang semangat untuk melanjutkan keinginan ke London, bahkan sempat lupa sejenak, apalagi untuk mengunjungi rumah Holmes. Itu kan hanya keinginan versi aku umur belasan tahun.
Lalu apa dan
bagaimana keinginan “aku” versi 22 tahun, apakah ada?
Ada, banyak, salah satunya ingin beli Ramen pakai uang Yen yang berarti kudu mengunjungi Jepang dan beli Tteok-bokki pakai uang Won. Untuk banyaknya list keinginanku yang lain biar kusimpan sendiri dulu. hahaaahah.
Bye, sampai jumpa di tulisanku yang lain—lagi-lagi kalau mood menulis sedang baik.
*****
sumber foto; klik disini.


Komentar
Posting Komentar