2020 dan kpop

Ahn Ji Young Bol4

Sejak Pandemi, ah bukan. Sejak awal tahun dan sepanjang tahun 2020 ini selera musikku tetap; k-pop. Biasanya melalui spotify aku mengakses lagu-lagu barat, terkadang Sheila on7, beberapa lagu populer barat, dan lagu lawas lain, tapi tahun ini benar-benar ditemani k-pop. Sambil mengerjakan skripsi, lagu-lagu berbahasa korea selalu menemani. 

Nah k-pop maksudku disini semua lagu Korea atau yang dinyanyikan orang Korea, termasuk lagu-lagu BTS yang makin didengarkan makin terasa nyaman di telingaku. Apalagi lagu-lagu Bol4, IU, AKMU, Paul Kim, zico, day6, eric nam ah banyakk lagi dan gak mungkin kusebut semua di sini. k-pop gak melulu tentang boyband dan girlband dengan dance koreo mereka, ada banyak penyanyi solo dan duo yang gak kalah berbakatnya, dan tentu lagu mereka nyaman sekali di telingaku.

Sekarang pun, headset yang kupakai memutar spring day nya BTS. Berbicara tentang selera musik, orang-orang memiliki kesukaan dan genre masing-masing, satu temanku suka sekali dengan lagu indie, genre indie sejenis lagu karya Fiersa Besari, Nadin Amizah dan deretan nama lain yang tak pernah kudengar sebelumnya.

Lagu-lagu tersebut menjadi popular seiring dengan populernya istilah “anak senja” dengan duduk di coffeeshop atau cafe sambil menyeruput kopi di sore hari, menikmati senja dengan view matahari terbenam dan mendengar lagu-lagu indie-galau—aku biasa menyebutnya.

Kenapa indie-galau? Karena mostly liriknya terdengar galau, sedih, dan meskipun bahagiapun masih terdengar sedih di telingaku. Semua orang bebas memiliki pendapat dan persepsi masing-masing kan, menurutku lagu indie-galau tidak ada yang salah, hanya saja tidak bisa kunikmati, oh lebih tepatnya belum bisa dinikmati telingaku. Lirik bahasa Indonesia yang jelas sekali kupahami, lalu dengan ungkapan dan penggambaran lewat kalimatnya membuatku merasa “aduh konyol sekali lagu ini, terlalu dilebih-lebihkan”, ya tapi semua orang memiliki penilaian masing-masing bukan?.

 Mungkin aku saja yang belum bisa menikmati karya sastra tersebut, buktinya banyak sekali yang menikmati music genre itu, penyanyinya juga bukan hanya satu-dua saja, banyak yang kemudian mengkover lagu-lagunya di YouTube, belum lagi yang biasa diputar di radio dan di café.

Alasanku selalu dan masih mendengarkan lagu Korea salah satunya adalah bahasa yang dinyanyikan menggunkan bahasa Korea yang mana bukan bahasa penuturku, apalagi bahasa yang kukuasai, aku sekedar mengerti beberapa kosakata hangul karena bisa mendengarnya di series dan film Korea.

Karena music berbahasa universal, aku lebih menikmati setiap lirik yang tidak kupahami bahasanya, terdengar aneh? Tidak juga. Bagaimana dengan lagu bahasa Inggris? Aku menikmati lagu barat, beberapa penyanyi pernah jadi favoritku meskipun tidak bertahan lama. Dulu aku pernah jadi penggemar One Direction, waktu masih seumuran remaja labil, Zayn jadi favoritku. Lambat laun, mereka pun bubar, menyanyi solo. Satu lagu berkesan yang kudengarkan adalah milik Niall Horan, This Town. Entah kenapa pertama kali didengar telingaku, mataku reflex menangis, aku tidak melebih-lebihkan, ini sungguh sesuai kenyataannya. Lagu itu sedih sekali, bercerita tentang si penyanyi yang ditinggal cinta pertamanya, coba saja dengarkan waktu sedih atau mungkin di posisi yang kurang lebih sama; sedang ditinggal kekasih. Apa aku waktu itu sedang kehilangan kekasih? Sepertinya tidak, mungkin suasana hatiku saja yang terlalu payah untuk mendengarkan lagu sedih.

Suatu saat, kalau telingaku bisa mendengar lagi indie-galau berlirik bahasa Indonesia mungkin akan juga berakhir menangis seperti itu, atau mungkin feel the feeling dari si penyanyi.ah apa iya?

Tapi soal genre lagu kesukaan selain karena kebiasaan bisa juga karena begitu saja sih, begitu saja tanpa ada alasan, karena terkadang kita gak perlu alasan untuk menyukai sesuatu.


sumber foto, kilik di sini.

Komentar

Postingan Populer