berlabuhlah di tempat keinginanmu
Hidup itu luas. Ada banyak tempat untuk ditinggali, sekedar disinggahi atau bahkan hanya dilewati. Seperti analogi perahu di tengah samudera, dengan hamparan daratan yang tak tahu pasti harus berlabuh di mana. Kalau angin sedang bersahabar, ombak sedang berdamai dan si pelaut handal untuk membaca formasi bintang sebagai penunjuk arah, perahu pasti akan mendarat, meninggalkan hamparan biru ketika bermatahari dan hitam gelap ketika diterangi rembulan.
Untuk bisa menjadi pelaut tangguh, berlayar sampai dapat berlabuh di daratan akan menghabiskan banyak energi, keringat dan terkadang air mata; usaha.
Anggap saja sekarang perahuku dilengkapi dengan alat navigasi, lengkap dengan buku panduannya. Bukankah ini sesuai dengan keadaan sekarang, dengan kemudahan akses informasi, berbagai variasi gadget, sosial media. dan kecepatan internet.
Berbagai kemudahan sumber penyalur informasi tersebut bisa dianalogikan sebagai "alat penunjuk arah di perahu", tinggal si pelaut mau apakan alat itu.
Apakah akan mempelajari buku panduan, mencoba mengoperasikan lalu digunakan untuk acuan arah, atauu.. memilih bersantai sambil menunggu kapal besar yang mungkin kebetulan lewat, atau mungkin ada cara lain.
Akhir dari perjalanan perahu, hanya si pelaut yang tahu. Seperti halnya jalan hidup manusia yang sudah Tuhan tulis takdirnya, namun pada halaman-halaman tertentu, Tuhan menulis "sesuai keinginanmu".
***
Aku sekarang sedang memikirkan banyak hal, karena tidak bisa membaca formasi bintang, tidak juga bisa mengoperasikan alat navigasi dengan baik, aku memutuskan untuk tetap berlayar, sambil tetap mempelajari cara kerja alat navigasi lewat buku panduan, aku berlayar mengikuti angin dan gelombang.
Selama persediaan makan cukup, aku tidak akan berhenti. Selagi bergerak bukankan kemungkinan bertemu dengan pelaut lain juga ada? jika bertemu, aku bisa belajar banyak dari mereka.
***
quarter-life crisis?


Komentar
Posting Komentar