Beranjak
Malam semakin merangkak, sepertinya semakin malam euforia menulisku naik berpuluh-puluh tingkat.
Hari ini senin yang sedikit berbeda, karena ada pemadaman listrik di sepanjang jalan Ir. H. Soekarno, pekerjaan di kantor hanya dilakukan setengah hari sampai jam 1 siang, selepasnya di lanjutkan di rumah masing-masing.
Siang tadi terik, dengan sedikit mendung, berawan dan berangin yang kemudian tidak disusul hujan. Sepertinya musim penghujan akan segera meninggalkan Surabaya.
Surabaya mulai terasa penat, seperti Surabaya sebelum musim hujan datang. Panas.
Aku yang selama 10 minggu ini sedang menyesuaikan kesibukan, diri dengan lingkungan--yang dibersamai dengan musim hujan, akhirnya mulai mengeluh dan berharap semua ini segera beralih. Tanpa kusadari, aku penat, meskipun menyenangkan rasnya seperti dikurung saja, tak bisa kemana mana. Bukan hanya soal musim yang akan segera berganti, tapi kondisiku yang tidak juga berganti seperti pergantian musim.
Keluhan biasanya sering kuucap kepada orang-orang disekitarku, teman kos--yang mereka sudah kuanggap seperti saudara sendiri, beberapa sahabat jauhku yang tinggal ratusan kilometer jaraknya dari Surabaya, dan tentu saja Umik, pendengar setia keluh kesah, senang serta penasihat terbaik sepanjang masa.
Aku pun mulai lelah mengeluh.
Mulai lelah bercerita kesana kemari soal hal yang kualami.
Mungkin mereka terlampau bosan mendengarkanku, aku yang egois ini kadang tidak sadar mengesampingkan kalau mereka juga punya kisah mereka yang perlu mereka ceritakan.
Dan masalahnya...
Apa yang kukeluhkan akan terulang jika aku tidak beranjak.
Pilihan ini memang keputusanku, juga konsekuensi yang harus kutemui. Namun, didepan sana.. ada banyak jalan lain yang belum kulalui.
Lalu apa aku harus tetap disini?
Kalau bukan aku yang merubahnya, siapa lagi?
Disini aku sibuk dihujam waktu,
Juga lelah menanti kapan.
Bukan akhir yang kuinginkan, tapi perjalanan memang masih panjang..
dan selalu akan panjang...
Kalau bukan aku yang merubahnya, siapa lagi?
Benar, aku harus beranjak. Setidaknya menyusun strategi terbaik, menyiapkan dengan matang. Dan ucapan selamat tinggal akan berulang.
Hey, bukannya memang setiap ada pertemuan selalu dikuti dengan perpisahan?
Keputusan dan tindakan lah yang merubah perjalanan.
Baiklah, aku harus beranjak.

bertahun tahun setelahnya, akhirnya kamu bisa beranjak juga nid. selamat! kamu benar-benar berusaha untuk merubah keadaanmu. Allah maha baik karena menghendaki usahamu. kutunggu tulisan-tulisan gilamu yang lain, keluhanmu yang lain, rencana-rencana untukmu sendiri di masa depan. sampai jumpa di waktu yang berbeda, dari aku, nida versi 2023--yang 2 tahun lalu menulis postingan ini.
BalasHapus