RAMADHAN 2021 (1442 HIJRIYAH)



Hi.. meeting me here, sekarang malam Ramadhan ke-20. Besok akan memasuki 10 hari terakhir bulan istimewa ini. Makin kencangkan sabuk nya yaa.. siap-siap untuk 10 malam terakhir. Ramadhan tahun ini jelaslah mengajarkan banyak hal, bukan hanya sekarang saja, setiap Ramdhan selalu mengajarkan dan menyelipkan ceritanya masing-masing.

Setiap Ramadhan selalu begitu.

Mungkin di Ramdhan tahun sebelumnya, ada saudara kita yang masih lengkap dengan orang tua nya, masih bersama dengan anaknya, suami/istri atau bahkan bareng dengan teman sekos atau masih bertemu teman kerja/teman kuliah. Tapi di kesempatan sekarang, kerabat/kenalan kita tersebut bahkan tidak bisa merasakan Ramadhan ini. Mereka sudah mendahului bertemu dengan ujung usianya sebelum sempat melewati Ramdhan ini.

Untukku sendiri, nikmat Ramdhan yang benar-benar terasa barulah tahun ini. Sebelumnya, dengan kesibukan menjadi siswa yang sedikit banyak meluputkanku, atau bahkan mungkin kita. Tahun ini, dengan lingkungan baru dan pemahaman yang inshaAllah juga semakin diperbarui, aku bisa merasakan Ramdhan di tengah-tengah lingkungan baru. Sepanjang pagi-siang, waktu di sekolah dedikit banyak menyibukkan untuk belajar kembali, dari anak-anak didik yang MasyaaAllah mereka adalah berkah dan karunia yang selalu datang bertubi-tubi. Menampar ke-tidak perhatianku akan hal yang biasa kunikmati. Nikmat sehat, nikmat senang, nikmat sedih dan bahkan juga nikmat kehilangan.

Satu Senin, tepatnya Ramadhan ke-7 beberapa hari yang lalu. Setelah libur seminggu awal Ramadhan, kegiatan sekolah diawali dengan Ramadhan Ceria, jadwal belajar diganti dengan materi tentang Ramadhan. Kebetulan aku dapat bagian pertama, menjelaskan tentang keutamaan puasa. Salah satu siswa banyak sekali bertanya, melontarkan semua kalimat tanya untuk kata yang tidak difahami.

"ustadzah taqwa itu apa?"

Lalu setelah kujelaskan soal keadaan setan pada waktu Ramadhan, dia kemudian melanjutkan pertanyaannya "kenapa Allah menciptakan setan us?" yang sebelumnya dia berujar refleks "asyik sekarang gak ada setan, gak ada setan jelek".

juga kalimat-kalimat seperti ini

"Us kalau Ramadhan harus puasa, kalau di bulan lain gimana?"

"Kalau di bulan biasa, pintunya dibuka gak us? (maksudnya pintu surga)"

"kenapa dosanya dihapus us?"

"Us kenapa sih Allah nyiptain setan?"

"Kalau aku puasanya sampai dzhuhur terus puasa lagi, dapat pahala gak us?"

"Aku gak sahur us, berarti gak dapat pahala dong"

"Us tapi di surga itu bebas ya us?"

"Bisa main game sampek 1000 tahun?"

"Di dunia itu sementara, kalau di akhirat selamanya ya us"

"Us aku itu gak suka tahu goreng, tapi pas buka puasa rasanya jadi enak"

"us boleh gak orang kafir ikut-ikutan puasa?"

"Kasihan Justin temenku dia bukan muslim, kasihan ya us dia gak kenal Allah"

Dan banyak lagi kalimat-kalimat lain. Yang paling menamparku satu kalimat ini, di penghujung pertemuan kelas dia tanya;

"Ustadzah seneng gak us?"

"Seneng kenapa?" jawabku.

"Seneng karena sekarang Ramadhan".

Dan empat kata itu, yang keluar dari mulut seorang anak umur 8 tahun, berhasil membuatku bercermin. Melihat kembali ke diriku sendiri. Berintrospeksi, apa iya aku sesenang ini dengan datangnya Ramadhan? Kalau iya, pasti hal yang kulakukan sepanjang Ramadhan ini bisa menjawabnya. Paka aku akan membuang percuma kesempatan indah ini, atau kumanfaatkan dengan sekuat tenaga?

Kalian juga begitu.

Apa kalian senang?

Dan dengan apa kalian ekspresikan rasa senang itu? jawabannya cuma kalian dan Allah yang tau.

***

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH DI BULAN BERKAH INI YAA KAWAN-KAWAN.

BARAKALLAHU FIIKUM.

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wawbarokatuh.

Komentar

Postingan Populer