Kekesibukan & Tanggung Jawab (persiapan menikah #2)
| hidup |
Setiap yang bernyawa pasti memiliki kesibukan. Biji yang ditanam sibuk tumbuh menjadi kecambah lalu menjadi tanaman yang batangnya akan mengeras menjadi kayu, akarnya menjalar dan meluas masuk ke dalam tanah. Dia tumbuh dan bermanfaaat bagi sekitarnya.
Hewan juga begitu. Induk ayam yang baru bertelur pastilah sibuk mengerami telur-telurnya, menjaga mereka tetap hangat agar nantinya bisa menetas dengan sempurna. Anak ayam yang berhasil menetas akan menjalankan kehidupannya menjadi seekor ayam, sibuk mencari makan, tidur, berkeliling di ladang rumput, mencari makan, jika betina bertelur, jika jantan akan dibelah dan dimasak. Meskipun ayam jantan dan betina bisa saja dimakan😁😂.
Selanjutnya yang bernyawa ada kita, manusia.
Tentulah kita berbeda dengan tumbuhan dan hewan. Karena Allah memberi kita karunia berupa akal. Kita mampu berfikir, mampu memutuskan apa yang akan kita pilih dan kerjakan.
Spesial sekali manusia. Dia bisa berkehendak.
Kita punya pilihan untuk bertindak dan dengan pilihan-pilihan itu kita akan selalu diiringi dengan tanggung jawab, sesuai dengan pilihan yang akan kita ambil. That's why setiap manusia adalah pemimpin, pemimpin untuk diri sendiri. Karena pengambil keputusan tentulah yang harus bertanggungjawab dengan keputusan yang dipilihnya.
Sedihnya, tidak semua menyadari bahwa kesibukan dan tanggungjawab ini bukanlah hal sederhana yang hanya dikerjakan dan lewat begitu saja. Beberapa dari kita bahkan lupa apa tujuan kita ada disini. Menjalani hidup, melalui masalah, bersenang-senang, menjalani hidup lalu berakhir dengan menemui ajal.
Padahal...
Tidak sesederhana itu.
Bagi yang berilmu...
Hidup disini hitungannya hanya sebentar, dibanding dengan setelah kematian nanti.
Kalimat yang baru kalian baca itu berlaku bagi semua manusia. Namun tidak semua tahu, bahkan sebagian ada yang menolak untuk tahu, lebih tepatnya mengingkari.
***
Dalam fase kehidupan seseorang. Jika sang Pencipta memberinya cukup waktu serta takdir bertemu dengan pasangannya, maka nantinya dia akan berjumpa dengan fase pernikahan.
Menjalani kehidupan pada kelompok terkecil dari masyarakat.
Menikah adalah satu dari sekian banyak fase dalam kehidupan. Dan bahkan fase ini bisa jadi fase paling penting.
Karena dalam Islam, menikah adalah menyempurnakan agama. Dengan menikah, akan tercukupi kebutuhan alami manusia. Kebutuhan biologis, kebutuhan saling bergantung, kebutuhan hidup berkelompok, kebutuhan untuk saling berkomunikasi dan saling tukarpikiran, kebutuhan untuk saling menyayangi, kebutuhan untuk bersama dalam ketaatan pada sang Pencipta. Ah banyak..
Kebutuhan tersebut tentulah disertai dengan tanggungjawab. Dan tanggungjawab dalam pernikahan dimulai dari pribadi masing-masing.
Kalau sudah tuntas bertanggung jawab atas diri sendiri, menikah akan menaikkan level tanggungjawab. Karena dengan menikah bukan hanya diri sendiri yang sibuk, tapi ada dua kepala berbeda, jadi keduanya harus saling bersinergi dalam kesibukan beraama. Dua-duanya akan memiliki tanggungjawab masing-masing dan bersama.
Maka, kesibukan dalam berumahtangga harus disertai dengan tanggungjawab penuh dari dua kepala itu. Dua kepala yang berbeda menjadi satu dengan saling melengkapi. Kekurangan dan kelebihan dirasakan bersama, menyibukkan harihari dengan bekerjasama.
Jika salah saling mengingatkan, jika lemah saling menguatkan, jika terpuruk saling mendukung.
***
Beberapa orang menikah karena terlampau mencintai pasangannya lebih dari apapun, lupa kalau ada Dzat yang lebih cinta dengan-nya, lupa kalau tujuan awal adanya dia di dunia adalah untuk menghamba kepadaNya. Lupa kalau yang menciptakan rasa nyaman, tentram, kasih dan cinta pada pasangannya adalah Allah.
Dengan merasakan berbagai nikmat hidup, apalagi dalam berumahtangga, sejatinya adalah untuk selalu taat dan selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.
***
Ada banyak sebab pernikahan.
Dan dari sekian banyak sebab-sebab yang ada, aku ingin pernikahanku kelak adalah hanya karena Sang Pencipta. Karena Allah yang pertemukan kita berdua.
Aku ingin kelak mencintai seseorang karena rasa syukur telah diberi nikmat dari sang Khaliq.
Sebagaimana Allah beri nikmat Umik Abi yang merawat kami, anak-anaknya dengan kasih. Mendidik anak-anaknya karena semata hanya berharap ridho dan rahmat dari sang Kuasa.
Aku ingin kelak mencintai seseorang karena bersama-sama ingin bertemu dengan sang Khaliq dengan perasaan bahagia, mendapat limpahan kasihsayang, keridhoan, dan kebagiaan abadi di tempat pemberhentian akhir sana.
Karena disini kita hanya sebentar. Dan untuk menjalani hidup singkat ini dengan bahagia adalah hanya bisa didapat dengan bergantung pada kasih sayang, Rahmat dari sang Kuasa.
Bukankah kehagiaan hidup disini hanya soal hati yang lapang? hidup lapang dengan limpahan berkah dan kasih sayang dari sang pemilik kehidupan. Allah Tuhan Semesta Alam.

Komentar
Posting Komentar