Surat dari Dunia.
Hai penduduk Surga. Semoga Keselamatan, Rahmat serta Keberkahan Allah limpahkan kepadamu.
Aku penghuni bumi, yang suatu saat nanti dengan Rahmat Allah akan pindah ke sana. Ingin sekali aku kesana.
Ke Langit? entahlah, hanya Sang Pencipta yang tau di mana letak pastinya. Yang pasti sekarang tempat itu sudah ada, jauh sebelum adanya tempat ini. Tempat semua kenikmatan yang tidak ada batasannya, tempat kesenangan yag tiada akhirnya, tempat yang tidak ada bandingannya dengan disini.
Disini kami hanya sementara, terjebak antara ruang dan waktu yang terbatas.
Di sini kami sedang sibuk mengukir memori. Sedikit demi sedikit, yang nanti akan membentuk akhir, mengantarkan kami pada salah satu pemberhentian selamanya. Yang kami ingin adalah Surga, kasih sayang dari Sang Kuasa.
Hanya ada dua pemberhentian.
Hadiah surga yang nikmatnya tidak pernah bisa kami bandingkan dengan kenikmatan di sini.
Dan balasan neraka untuk mereka yang ingkar, siksaannya sakit dan mengerikan tiada akhir.
Di sini, mmori tercipta karena ada ruang dan waktu. Tapi yg lebih penting dari keduanya, adalah ketetapan, kasih sayang, serta Ridho dari Sang Pencipta ruang dan waktu tersebut. Tanpa campur tangan-Nya, suka cita tidak akan terjadi, memori tidak akan terbentuk, kejadian tak akan berubah menjadi memori.
Aku sedang terbaring, bersantai diatas kasur sambil membuka foto-foto lama setahun yang lalu. Senang sekali rasanya, mengulang ingatan di setiap jepretan fotonya.
Setiap jepretan terlihat sama persis, tidak berubah barang sesenti pun dari jepretan pada waktu itu, yang berbeda adalah kami yang menua.
Di sini, tidak ada satupun hal yang bertahan lama, waktu selalu berputar, semua berubah. Mungkin jepretan foto akan tetap sama, bisa kembali kita buka kapanpun, tanpa sedikitpun berubah. Tapi, nanti ada waktunya, kita yang tidak bisa kembali membuka foto tersebut, karena waktu selalu berputar, ada waktunya kita sampai pada ujung hidup masing-masing.
Komentar
Posting Komentar