Mengapa Islam Berawal dari Jazirah Arab?
| Ka'bah di Mekah, Saudi Arabia. |
Nabi Muhammad lahir di kota Mekah, Saudi Arabia pada tanggal 12 Robiul Awal sekitar tahun 571 Masehi, 53 tahun sebelum peristiwa besar Hijrahnya kaum Muslimin ke Madinah. Beliau lahir bertepatan pada tahun Gajah, sekitar 50 hari setelah penghancuran Ka’bah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah[1].
Muhammad
adalah putra Abdullah, Ayahnya adalah putra bungsu dari pemimpin Mekah, Abdul
Muthallib (nama aslinya Syaibah Al-Hamd bin Qushay). Abdul Muthallib merupakan
seorang terpandang dan disegani, beliau pemimpin Mekah yang sekaligus
bertanggung jawab mengurus jamaah haji dan bangunan suci Ka’bah.
Pada
waktu itu, Jazirah Arab sangat jauh dari peradaban dan pemikiran maju seperti
yang dimiliki bangsa Persia, Romawi, Yunani dan Hindustan. Kondisi keempat
peradaban ini sangatlah jauh lebih
berada dibandingkan dengan masyarakat yang hidup di padang pasir Jazirah Arab. Persia
dan Romawi merupakan penguasa dunia dan pemimpin adidaya pada saat itu.
Dibawahnya ada peradaban Yunani dan Hindustan.
Persia
merupakan peradaban maju namun merosot moralnya. Waktu itu banyak yang menganut
aliran Zoroaster yang pada salah satu ajarannya memperbolehkan pernikahan
seseorang dengan ibunya, putrinya atau bahkan saudara perempuannya sendiri. Misalnya,
Raja Yazdegerd II yang berkuasa pada abad ke-5 Masehi menikahi putrinya sendiri[2].
Selain itu, ada aliran Mazdakisme yang pada salah satu ajarannya menghalalkan
perempuan dan harta benda dan menjadikan keduanya sebagai milik bersama
masyarakat, sebagaimana mereka berserikat dalam memiliki air, api dan rumput.
Kedua aliran ini hanyalah beberapa dari banyaknya aliran menyimpang yang
diyakini masyarakat Persia. Mereka hidup dalam lingkaran pemikiran dan filsafat
yang rumit, serta kebejatan moral dan ambisi dunia yang sangat besar.
Kemudian
Romawi merupakan pemeluk agama Nasrani. Mereka penganut Kristen yang memiliki
ketamakan, ambisi serta kekuatan militer yang sangat besar. Romawi mengandalkan
kekuatan militer serta ambisi kolonialisme untuk mengembangkan Kristen yang
sekaligus mempermainkan ajarannya sesuai dengan hawa nafsu dan ketamakan
mereka. Juga memperbudak bangsa-bangsa di sekitarnya demi memperkuat
kolonialisme.
Selain
kedua peradaban tersebut, Yunani dan Hindusatan yang juga tak kalah mengalami
kemerosotan moral dan sosial yang hampir sama.
Jazirah
Arab merupakan wilayah kecil yang diapit oleh dua peradaban besar. Kekaisaran Romawi
di sebelah utara dan Kekaisaran Persia di sebelah timur. Jazirah Arab hanya wilayah
kecil jika dibandingkan dengan wilayah kekuasaan kedua bangsa tersebut. Namun
pada masa itu, bangsa Arab hidup pada kondisi yang jauh dari ramainya
pertentangan politik serta kekacauan peradaban. Mereka tidak memiliki kemewahan
dan gaya hidup Persia yang hedonis. Juga jauh dari kekuatan besar militer
seperti yang dimiliki Romawi.
Bangsa
Arab hidup dengan tanpa memikirkan tentang berbagai aliran-aliran yang tersebar
di Persia, ataupun sibuk memikirkan ajaran dan filsafat yang berkembang di
Yunani. Bahkan mereka banyak yang tidak bisa menulis dan membaca. Tolak ukur
kecerdasan menurut bangsa Arab pada waktu itu adalah bukan kemampuan baca
tulis, sebaliknya para penyair yang mahir malantunkan syair secara langsung lah
yang dianggap sebagai cendikiawan di masa itu.
Kondisi bangsa
Arab waktu itu masih jauh dari hiruk-pikuk kemewahan dunia serta kemerosotan
moral atas kepentingan hawa nafsu. Jika dilihat dari kebiasaan-kebiasaan
masyarakatnya, bangsa Arab dinilai masih memiliki dominasi fitrah baik manusia
yang luhur seperti dermawan, suka menolong, menjaga harga diri serta kehormatan
mereka. Hanya saja kondisi mereka yang cenderung pada kebodohan, kesederhanaan
serta kenaifan membuat banyak dari mereka yang tersesat dari kecenderungan
sifat baik manusia. Beberapa dari mereka bahkan tega membunuh anak kandungnya demi
kehormatan, rela menyia-nyiakan harta bendanya demi kedermawanan, serta rela berperang
satu sama lain demi mempertahankan harga diri.
Selain
itu, mereka juga memiliki kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang dari ajaran asli
mereka yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kebiasaan yang paling
menonjol adalah penyembahan berhala dan dominasi fanatisme kesukuan yang kuat
luar biasa. Namun jika dibandingkan dengan peradaban maju pada masa itu, bangsa
Arab melakukan berbagai penyimpangan bukan didasari pada perencanaan,
pemikiran, dan pengetahuan. Mereka melakukan penyimpangan lebih pada kebodohan,
melanjutkan tradisi yang menyimpang serta gengsi mereka akan harga diri.
Dari latar
belakang inilah dan dari kondisi berbagai bangsa pada waktu itu, Allah memilih
Jazirah Arab sebagai tanah persemaian pertama dakwah agama Islam. Seandainya
Allah memilih tempat terbitnya dakwah Islam di Persia, Romawi, Yunani atau
Hindustan pada saat itu, tentulah sangatlah mudah dan tidak sulit bagi-Nya.
Pastilah disana Allah sudah menyiapkan berbagai sarana yang akan menyukseskan
dakwah Islam. Semua itu tidak sulit bagi Allah. Karena Dia adalah Sang Kuasa,
Maha Pencipa, Maha Pembuat semua sarana dan faktor penyebab.
Namun
Allah menjadikan Jazirah Arab sebagai tempat lahirnya sang utusan terakhir,
pembawa risalah terakhir yang menyempurnakan risalah-risalah Allah sebelumnya.
Tentulah disini ada hikmah yang patut kita teladani. Salah satunya bahwa Rosulullah
Muhammad Salallahu ‘Alayhi Wasalam adalah seorang yang buta huruf.
Beliau tidak bisa membaca dan menulis sepanjang hidupnya. Namun Allah amanahi
beliau dengan Al-Quran. Dengan hikmah ditetapkannya beliau sebagai tunaaksara
di tengah kaum yang juga mayoritas tidak bisa menulis dan membaca membuat mereka
tidak meragukan kenabiasannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak alasan
untuk tidak mengikuti kebenaran dakwahnya. Hal ini menjadi jelas dan tidak ada
kerancuan bahwa risalah yang dibawa beliau adalah hanya dari Allah semata. Sebab
masih banyaknya kaum kafir Quraisy yang menentang risalah Rasulullah
adalah semata-mata hanya karena fanatisme kesukuan dan gengsi mereka akan
kepercayaan yang mereka anut. Bahkan salah seorang pembesar Quraisy bernama
Walid bin Mughiroh pun mengakui bahwa Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah adalah
benar adanya, namun dia lebih memilih untuk berpaling menebar kebohongan bahwa
Al-Qur’an hanyalah sihir yang dipelajari dari orang lain dan bukan perkataan
Allah, dia lalu menyombongkan diri hanya karena faktor gengsi dan fanatisme
kesukuannya[3].
Jika
saja bangsa Arab pada waktu itu tenggelam pada kerumitan berfikir dan mengkaji
kitab-kitab kuno tentulah dikhawatirkan mereka akan meragukan kenabian
Rosulullah Muhammad. Selain itu, jika dakwah Islam muncul di tengah peradaban
Persia, Romawi, Yunani, dan Hindustan pada waktu itu, selanjutnya akan banyak
yang menuding bahwa Islam adalah ajaran yang muncul dari mata rantai pemikiran
filsafat pada waktu itu.
Hikmah
selanjutnya yakni Allah telah menjadikan rumah-Nya, baitullah Ka’bah
yang dibangun oleh nabi Ibrahim Alayhissalam dan nabi Ismail Alayhissalam
sebagai tempat berkumpulnya umat manusia dan menjadi tempat aman, serta
menjadikan bangunan pertama di muka bumi yang didirikan berlandaskan iman dan
taqwa ini menjadi tempat beribadah dan tegaknya simbol-simbol agama Islam.
Allah menempatkan keturunan nabi Ibrahim disana sebagai utusan nabi terakhir yang
sekaligus melanjutkan risalah ketaqwaan agama leluhur kita, nabi Ibrahim Alayhissalam
dan menjadikan Mekah sebagai tempat pertama kelahiran dakwah Islam.
Selain
itu letak geografis Jazirah Arab yang merupakan titik tengah bangsa-bangsa di
sekitarnya sehingga memudahkan kawasan ini sebagai salah satu faktor penyebaran
agama Islam sehingga dakwah Islam nantinya akan dapat dijangkau dan disebarkan
kepada seluruh bangsa-bangsa yang mengelilinginya pada era Kekhalifahan. Kemudian
hikmah dijadikannya bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan bahasa dakwah Islam
adalah karena karakteristik bahasa Arab yang istimewa jika dibandingkan dengan
bahasa-bahasa lain di dunia. Maka dari itu bahasa Arab jauh lebih pantas
menjadi bahasa pertama kaum Muslim.
Sumber-sumber
diambil dari:
Tafsir Al-Muddatsir ayat 11-30 http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-al-muddatstsir-ayat-11-30.html
Buku The
Great Episodes of Muhammad karya Dr. Al-Buthy (Noura Books:2017) pada
pembahasan Jazirah Arab Sebagai Tanah Persemaian hlm 28-35.
[1]
https://www.republika.co.id/berita/pif8f5282/mengapa-tahun-kelahiran-rasulullah-disebut-tahun-gajah-part2
[2]
Dr. Al-Buthy, The Great Episodes of
Muhammad, Noura Books, Bandung, 2017, hlm 29.

Komentar
Posting Komentar