My Quarter Life Crisis - entah yang ke berapa

3 bulan lagi genap umurku 26 tahun. Dengan lingkaran pertemanan yang sudah tidak sebesar sebelumnya, karir yang--menurutku cukup untuk memberi konstribusi bagi orang-orang di sekitarku, juga setumpuk kegiatan yang menjadi kesibukanku sehari-hari, aku merasa sudah melengkapi dahaga.

Menjadi seorang muslimah yang tidak melewati batas, menjalani kegiatan sehari-hari dengan selalu berusaha berjalan sesuai koridor dan ketetapan Ilahi, juga sesekali menikmati hiburan k-pop, Netflix, Youtube dan beberapa akun sosial media, aku menjalani kehidupan yang menurutku normal untuk orang seumuranku. Asal semuanya dilakukan dengan porsi tidak berlebihan tentu tidak apa bukan?

Semua itu normal kan, iya, normal.

Padahal kalian tau? selalu merasa cukup (kadang) malah bisa menjadikan orang terlalu pasrah. Maksudku, konotasinya jadi negatif jika dengan rasa cukup tersebut menjadikan kita tidak lagi berusaha. Semua orang pasti pernah berusaha bukan? hanya tingkat kesulitan, situasi dan kondisinya saja yang tidak sama. Bayangkan kalau seseorang berhenti berusaha? aku tidak mau menjadi seperti itu. Nah dalam kondisiku sekarang, yang kurasakan, mungkin saja, aku sedang butuh motivasi untuk memecut usaha yang akan kulakukan untuk hidupku kedepannya.

Tahun lalu, aku berusaha mengubah keseharianku dengan menyusun resolusi terbaik, memilah mana yang jadi prioritas, mana yang perlu kukurangi, juga bahkan menghapus beberapa kebiasaanku yang kurang bermanfaat, seperti mengurangi mendengarkan lagu Day6, Bol4, bahkan berhenti menonton serial dengan berlangganan Netflix. Aku sudah memilih jalan benar dengan tidak menikmati hiburan melalui laman ilegal. Namun untuk meninggalkan semua itu, wah sepertinya sangat sulit.

Benar saja, aku bertahan tidak lama. Sepanjang 2022 dari Januari sampai November kalau tidak salah ingat, aku benar-benar tidak mengakses Netflix apalagi mendengarkan lagu-lagu apapun. Kualihkan dengan kajian di Mosfeed, Yaqeen Institute, juga Syameela Series untuk lagu-lagu bahkan aku mengganti genre dengan mendengarkan album Zain Bikha, Mahar Zayn, dan banyak lagu-lagu religius di YouTube. Namun, pelan-pelan aku kembali mendengarkan lagi lagu Bol4 sambil mengingat kalau lagu itu dulu yang pernah menemaniku menulis proposal Skripsi waktu di Thailand. Belum lagi puluhan lagu Day6 yang juga sama berkesannya dengan Bol4. Juga exo, dan beberapa lagu hit di masa itu, aduh!

Ahhh apa-apaan yang kutulis ini.

Aku memang sedang menulis buku harian di sini--isi blog ini sebagian besar cuma keluh kesahku. Eh asal kalian tahu, meskipun aku jarang sekali mem-publish tulisan disini, aku rajin menulis jurnalnhariannamun tidak setiap hari, kusimpan rapi di folder 2023 di laptop kerjaku. Menulis memang cara yang paling ampuh untuk menuangkan perasaan, coba saja!

Seperti sekarang ini, bahkan kalau kalian membaca sampai kalimat ini, tidak ada kalimat yang diambil dari pesohor, penyair, atau bahkan ilmuan yang menyumbangkan ilmu mereka. Semua kalimat ini datang dari seorang gadis yang masih saja galau menjalani hari-harinya.

Anyway, aku menulis ini ditemani dengan lagu Day6 - For Me.

Di dalam kamar kosku yang bulan lalu baru kupasang lampu tumbler berwarna warm white.

Childish sekali bukan yang kulakukan? mungkin ini juga salah satu alasan tidak kunjungnya seseorang datang melamarku, ah apa ada deadline umur untuk menikah??? tidak bukan? jangan selalu berfikir kalau semua masalah, juga kebiasaan kekanakanmu ini akan selesai dengan pernikahan! 

Tenang yorobun, jangan panik, tulisan bergaris bawah itu omelan untuk diriku sendiri. Kutujukan untukku yang menulis ini.

Disaat kebanyakan temanku sekarang ada yang sedang bermesraan bersama suaminya, sibuk mengurusi anaknya, memasak dan membersihkan rumah, menulis tugas jurnal ilmiyahnya untuk program Master, mengerjakan deadline kantor, mempersiapkan keperluan untuk hari pernikahannya, aku malah sibuk menuangkan perasaanku pada secarik postingan blog ini.

Ah lagi-lagi. Jangan bandingkan hidupmu, kegiatanmu, pencapaianmu dan apapun itu dengan orang lain. Cukup! salah satu tanda-tanda quarter life crisis ya ini. Mulai membandingkan diri dengan orang lain terkait capaian. Kalian mungkin mengira aku akan menjelaskan lengkap soal quarter life crisis bukan? oh tentu tidak, banyak yang sudah mengulas dan menjabarkan tentang quarter life crisis. Kalian bisa membaca penjelasan yang ada di laman kemenkes, klik ini kalau ingin membaca. 

Jika aku mulai melihat teman-teman lama, akupun mulai membandingkan diriku dengan mereka. Sepertinya mereka sudah melewati fase yang sedang kulewati sekarang, karena kebanyakan dari mereka sudah menikah, beberapa bahkan sudah mulai studi S2 nya, jadi rasanya ada yang kosong di diriku. Apa yang akan kulakukan setelah tahap ini? apa cukup hanya dengan bekerja saja?

Makin aku membandingkan dan melihat berbagai pencapaian mereka aku makin merasa kurang dan ujungnya mengeluh.. yeng tentunya hal ini bukan pertama kalinya ku alami.

Di waktu awal Pandemi 3 tahun lalu, aku sudah merasakan hal ini--rasa kosong. Rasa galau yang luar biasa membuncah atas apa lagi yang akan kukerjakan setelah lulus S1. Singkat cerita aku bangkit dan menemukan tujuan serta jati diri, yang tentu tidak mudah. Tibalah saatnya sekarang, 3 tahun kemudian aku merasakan hal yang sama, lagi, rasa kekosongan itu.

Namun setelah kucoba mengingat beberapa tahun kebelakang. Aku pernah juga kecewa luar biasa, kalut pada diriku sendiri karena gagal seleksi masuk PTN (aku tidak yakin sebenarnya dengan jurusan yang kuambil waktu itu). Aku mencoba seleksi tersebut di dua tahun berturut turut dan gagal. Sebenarnya aku tahu akan gagal, namun rasanya lebih sakit dua kali lipat ketika sudah mengkonfirmasi kegagalan itu.

Apakah kejadian itu disebut sebagai life crisis? oh sepertinya bukan, hanya pengalaman gagal yang benar-benar menampar, sakit sekali. Dan setelahnya timbul juga rasa kekosongan. Tentang remaja yang sibuk memikirkan mau belajar apa, kuliah jurusan apa, sebenarnya impianku mau jadi apa? apa hal yang suka kukerjakan? apa hal yang mahir kulakukan? banyak pertanyaan keluar.

Salah satu kegagalan demi kegagalan yang kualami bisa jadi karena kurang jelasnya arah tujuanku kedepan. Bukan berarti aku tidak percaya dengan takdir yang sudah ditetapkan, tapi kalau tidak berusaha dengan merekcanakan ya sama saja bohong kan. Masa depan perlu diperjuangkan dengan usaha dan tujuan yang jelas, bahkan uang dan makanan pun tidak turun begitu saja dari langit. Kita perlu mencarinya.

Tulisan ini tidak ditulis sekali duduk. Ada banyak jeda tadi. Sholat, nyemil dan mengobrol dengan tetangga depan kamar, menjemur pakaian, tapi tidak dengan kegiatan beberes kamar, kamarku sedang berantakan. Aku meletakkan berbagai barang sembarangan, asal masih bersih, harum, redup dan kipas menyala, bisa kutempati dengan nyaman.

Jadi kesimpulan tulisan ini adalah. Aku harus berhenti membandingkan hidupku dengan teman-temanku. Apalagi orang-orang seusiaku yang kukenal. Mereka dan aku punya jalan hidup masing-masing, mungkin secara umum tujuan kita sama, menuju Allah, tapi jalan hidup kita tak sama. Jadi aku harus cukup menjadi diriku sendiri dengan tidak berhenti berusaha akan apapun yang akan kuhadapi nantinya.

Soal pernikahan, sudahlah. Toh itu bukan sebuah pencapaian besar dalam hidup. Pencapaian besar adalah untuk bisa mencintai Allah dan Nabi Muhammad melebihi rasa cinta kepada diri sendiri.

Sekarang, belajar peka dengan melihat wujud cinta Allah.

Hidup itu pendek nid, kalau kamu terlalu sibuk dengan masa quarter life crisis, rasa kecewa, setres berlebihan, atau apapun sebutan penyakit kejiwaan ini akan runyam nanti.

Hiduplah santai, selalu merasa cukup namun tidak berhenti berusaha.

Selalu belajar, baik melalui ilmu pasti dan pengalaman.

Bismillah.

You can through it, it's easy. Allah always helps you.

Komentar

Postingan Populer